< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 5 of 8
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.6, No. 2

217

H a l a m a n

jumlah penduduk, namun merupakan

golongan tertinggi dan terkuat sehingga

menguasai golongan lainnya.

Dalam arti sempit samurai adalah anak

shogun

daimyo

pada tuannya dan harus membelanya di

waktu bahaya, meskipun nyawa taru-

hannya. Kata samurai berasal dari kata

amurau

samurai akan melayani majikannya dan

mempunyai rasa kesetiaan yang tinggi

pada majikannya.

Pada tahun 1868, Shogunat Tokugawa

yang feodal itu mengalami kehancuran.

Dengan diilhami secara kuat oleh gagasan

pengabdian dan disiplin diri, maka ke-

setiaan para samurai kepada penguasa

setempat dipindahkan kepada bangsa,

dan bersamaan dengan itu semangat

usaha karena perasaan kewajiban na-

sional. Timbullah suatu bentuk patriotisme

revolusioner dengan tujuan menyelamat-

kan Jepang dari penjajahan, mengingat

situasi di Cina. Ini diungkapkan dalam

“FukokuKyo-

hei”

kuatan yang besar)

Para samurai menyandang pedang

mereka yang khas itu sampai tahun 1876

pres-

tise

pun di Eropa feodalisme tidak pernah

menciptakan hubungan tuan---budak

seperti yang sering kali digambarkan. Feo-

dalisme menciptakan suatu jaringan kewa-

jiban bersama dari kedua belah pihak, dan

sistem ini dipertahankan oleh suatu

perasaan kesetiaan yang kuat. Legenda

ronin

)

mengenai popularitas seseorang, tetapi

mengenai 40 orang yang melaksanakan

suatu tugas feodal.

Dengan runtuhnya Shogunat Tokugawa

ini, maka feodalisme di Jepang sebagian

besar sudah bubar dan hubungan dengan

Barat terputus. Akan tetapi, metode-

metode tradisional tetap berdiri kokoh. Ini

terlihat dalam pengaruh samurai terhadap

prinsip-prinsip manajemen kerja yang ber-

lanjut sampai sekarang, walaupun dalam

bentuk yang agak diperlunak

Tradisi feodal samurai ini pun langsung

masuk dan diserap ke dalam praktik in-

dustri modern Jepang, terutama mungkin

dalam perusahaan keluarga, dan mem-

berikan kode perilaku khusus kepada ke-

las manajerial dan penyelia.

Perlu ditekankan di sini bahwa gagasan

kesetiaan saling timbal-balik, di mana ke-

setiaan para bawahan kepada majikan

adalah sejajar dengan kesetiaan majikan

kepada bawahannya. Sehingga dengan

model seperti ini, karyawan berkewajiban

untuk setia kepada perusahaan bekerja

demi kemajuan perusahaan.

Dan sebaliknya, pemimpin perusahaan

pun berkewajiban untuk setia kepada

karyawannya dengan memperhatikan

kesejahteraan para karyawannya, misal-

nya dalam hal tunjangan yang diterima

karyawan Jepang, bonus besar yang di-

bayarkan dua kali dalam setahun, pe-

rumahan yang disediakan oleh perusa-

haan, pengangkutan gratis, dan pelayanan

kesehatan, makan yang diberi subsidi,

fasilitas olah raga, kegiatan rekreasi ber-

sama dan masih banyak lagi. Dan model

manajemen seperti ini akan menciptakan

suatu hubungan yang saling bergantung

satu sama lain dan juga saling mengun-

tungkan masing-masing pihak, dan bukan

loyalitas yang berdasarkan keterikatan

semata.