< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 2 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.7, No. 1

28

H a l a m a n

hanya satu yaitu tekanan penduduk.

Penelitian

pemodelan

perubahan

penggunaan lahan di Pulau Jawa tingkat

kedetilannya relatif terbatas.

et al

merupakan pendekatan empiris yang

dilakukan dengan studi kasus pada

Atlantic Zone (Costa Rica), China, Ekuador

dan Honduras. CLUE dikembangkan

Conversion of Land Use

and its Effect at Small regional extent)

yang merupakan alat untuk memodelkan

perubahan penggunaan lahan yang cukup

rinci.

Kabupaten Bandung merupakan

wilayah yang kompleks permasalahan tata

ruangnya. Permasalahan tata ruang ini

berdampak

pada

permasalahan

lingkungan seperti banjir, kekeringan,

erosi, longsor dan turunnya muka air

tanah. Hal ini perlu diatasi dengan cara

mengkaji seluruh aspek keruangan dan

dilakukan penataan yang menyeluruh.

Penataan ruang perlu dilakukan dengan

melihat sejarah perubahan penggunaan

lahan dan memproyeksikan perubahan

penggunaan lahan yang akan terjadi.

Salah satu perangkat lunak spatial yang

dapat digunakan untuk hal tersebut

adalah program CLUE-S dan ini belum

pernah dilakukan untuk tingkat kabupaten

di Indonesia.

Liputan

Kabupaten

Bandung

mencakup dua wilayah yang cukup

dinamis pembangunan wilayahnya yaitu

Kota Bandung dan Cimahi. Aspek

kependudukan pada ketiga wilayah dikaji

dalam

kaitan

dengan

perubahan

penggunaan lahan, di mana interaksi dan

daya

tarik

antar

wilayah

banyak

dipengaruhi oleh dinamika penduduk.

Penelitian

ini

bertujuan

untuk

mensimulasi perubahan penggunaan

lahan untuk 20 tahun mendatang

berdasarkan dua skenario, serta mengkaji

perkembangan

penduduk

terhadap

perubahan

penggunaan

lahan

di

Kabupaten Bandung.

METODE DASAR

Lokasi

penelitian

Kabupaten

Bandung

mempunyai

luas

wilayah

307.370,08 hektar yang terdiri dari 43

kecamatan. Kepadatan penduduk rata-

rata adalah 13 jiwa per hektar (BPS

2003). Waktu penelitian dari bulan

Agustus 2004 sampai Januari 2006.

Data primer yang digunakan adalah

citra satelit Landsat Enhanced Thematic

Mapper+7 tahun 2003 dan tahun 1983.

Data

tahun

2003

tersebut

diinterpretasikan

menjadi

data

penggunaan lahan eksisting. Data tahun

1983 diinterpretasikan menjadi peta

penggunaan lahan tahun 1983. Data

sekunder berupa data sosial ekonomi dan

geo-fisik wilayah serta data penggunaan

lahan tahun 1993.

Data sosial ekonomi meliputi data

dari Kabupaten Bandung, Kota Bandung

dan Kota Cimahi. Meskipun analisis

perubahan penggunaan lahan untuk studi

kasus Kabupaten Bandung, tetapi wilayah

Kota Bandung dan Kota Cimahi berada

ditengah

Kabupaten

Bandung,

jadi

mempengaruhi perubahan penggunaan

lahan Kabupaten Bandung.

Pada pemodelan spasial yang

mensimulasi

perubahan

penggunaan

lahan yang menjadi variabel dependen

(terikat)

adalah

penggunaan

lahan

sedangkan variabel independen (bebas)

driver

perubahan penggunaan meliputi aspek

sosial ekonomi, aspek fisik wilayah,

aksesibilitas dan iklim.

Klasifikasi

penggunaan

lahan

adalah air, hutan, lainnya, kawasan

terbangun, perkebunan, pertanian lahan

kering dan sawah yang merupakan hasil

interpretasi citra stelit Landsat ETM+7

tahun 2003 disajikan pada Gambar 1.

Peta ini dikonversi kedalam bentuk raster

untuk dibuat peta biner untuk setiap jenis

penggunaan

lahan.

Setiap

jenis

penggunaan lahan menjadi satu peta,

kemudian dikonversi ke bentuk teks,

menjadi variabel dependen (Tabel 1).

Lia Warlina