< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14Page 15Page 16

Page 13 of 16
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.7, No. 1

73

H a l a m a n

Sedangkan pengaruh dimensi menetapkan

apakah prestasi kerja sesuai dengan

standar terhadap perilaku karayawan

sebesar 0.151. Hasil konfirmasi dari

pegawai (120 orang responden) terhadap

apakah prestasi kerja sesuai dengan

standar yang ditetapkan 69.2% (83

r e s p o n d e n )

m e n g a t a k a n

t e r j a d i

penyimpangan.

Sedangkan

tingkat

kemampuan

pegawai mencapai target sebanyak 50%

(60 responden) mengatakan cukup target,

dan hanya 18.3% yang mampu mencapai

diatas target, dan 31.7% responden tidak

mampu mencapai target. Apabila pegawai

tidak mampu mencapai target, sanksi yang

diberikan kepada pegawai 35% responden

mengatakan kadang-kadang kena sanksi,

17.5% responden mengatakan jarang kena

sanksi, dan 47.5% responden mengatakan

sanksi yang diberikan cukup atau tidak

memberatkan.

4. Dimensi tindakan korektif.

Pengawasan

merupakan

proses

kegiatan membandingkan hasil nyata yang

diperoleh (das sein) dengan sasarn-sasaran

atau target yang telah ditetapkan. Bilamana

telah terjadi penyimpangan (deviasi) antara

strandar dengan realisasi tindakan korektif

sangat penting dilakukan oleh pihak

manajemen Dinas Perdagangan dan

Perindustrian yaitu melakukan tindakan

Follow-Up

berupa

mengoreksi

penyimpangan yang terjadi.

Namun

sebelum tindakan korektif dilakukan

terhadap

penyimpangan-penyimpangan

yang terjadi perlu dilakukan terlebih dahulu

pengumpulan data dan informasi. Tindakan

koreksi merupakan upaya pelurusan

terhadap penyimpangan, perbaikan atau

penyempurnaan terhadap deviasi-deviasi

rencana dan program kerja, penyimpangan

terhadap standar kualitas, biaya dan waktu

yang

telah

ditentukan,

pelanggaran

terhadap aturan disiplin pegawai dan

penyimpangan

terhadap

peraturan

perundang-undangan yang telah terjadi

selama proses kegiatan menghasilkan

pelayanan perijinan SIUP.

Dari hasil penilaian perlu mengambil

tindakan apabila terjadi penyimpangan,

atau

pengawasan

bukan

hanya

menemukan penyimpangan tetapi justru

melakukan koreksi atas deviasi-deviasi

yang terjadi. Selain itu upaya perbaikan

target

juga

dilakukan

terhadap

penyimpangan standar kualitas pelayanan

perijinan SIUP, pelaksanaan perbaikan,

serta penjatuhan hukuman kepada yang

melanggar/menyimpang dari ketentuan

yang ditetapkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

dimensi tindakan korektif memiliki keeratan

hubungan dalam proses pengawasan

dengan skor rata-rata sebesar 395.3.

Sedangkan pengaruh dimensi tindakan

korektif terhadap perilaku aparatur sebesar

0.321. Hasil konfirmasi 57.5% responden

mengatakan bahwa tindakan korektif yang

dilakukan

Dinas

Perindustrian

dan

Perdagangan terhadap perbaikan target

cukup

tinggi,

dan

pelaksanaan

pengukuran/perbaikan 72.5% responden

mengatakan baik, 24.2% mengatakan

cukup baik, 3.3% mengatakan kurang baik.

Apabila ada pegawai yang menyimpang dari

norma penjatuhan hukuman sebanyak

40% responden mengatakan kurang tinggi,

35% mengatakan cukup tinggi, 25%

mengatakan tinggi.

PENUTUP

Pengawasan beserta dimensi-dimensinya

berpengaruh positif dan signifikan terhadap

perilaku karyawan dalam pelayanan

perijinan SIUP. Besarnya pengaruh seluruh

dimensi-dimensi pengawasan terhadap

perilaku aparatur 41.2%. Ini memberi

pengertian manakalah terjadi perbaikan

pengawasan berserta dimensi-dimensinya

yaitu penetapan standar, pengukuran

kinerja, membandingkan, dan melakukan

tindakan akan diikuti perubahan perilaku

karyawan 41.2%.

Faktor lain yang tidak

terdeteksi dan diduga mempengaruhi

terhadap kualitas pelayanan diluar perilaku

aparatur sebesar 58.8%

Monang Sitorus