< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14Page 15Page 16

Page 7 of 16
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.7, No. 1

67

H a l a m a n

a. Dimensi Dorongan.

Dorongan yang dimiliki setiap individu

biasanya dimunculkan oleh akibat adanya

kekurangan yang dialami setiap individu

yang berkaitan dengan kebutuhannya

sebagaimana

diungkapkan

Winardi

(1992 :6) mengatakan bahwa “pada

umumnya para individu bertindak karena

adanya

sejumlah

kekuatan

yang

mendorong yang ada dalam diri mereka

sendiri, kekuatan itu umumnya berkaitan

(needs),

wants

(fears)

merupakan mesin penggerak yang ada

dalam diri manusia yang diakibatkan

adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi,

dorongan

itu

sekaligus

merupakan

kekuatan berupa rangsangan dari dalam

diri individu yang bersifat internal..

Disamping itu, harus mampu

menciptakan

keseimbangan

dan

keserasian antara kekuatan (dorongan)

yang

datang

dari

dalam

maupun

rangsangan yang datang dari luar dirinya.

Sebab, jika terjadi ketidak seimbangan

akan

menyebabkan

terjadinya

kekecewaan dan gangguan dalam diri

manusia.

Sebagaimana

diungkapkan

Hersey

dan

Blanchard

(1995:1)

mengatakan bahwa : “konsekuensi bagi

individu

yang

tidak

dapat

menyeimbangkan antara kepentingan

teknis dengan kemampuan sosial adalah

bencana, karena kegagalan ini berakibat

tidak terjaminnya kerja sama dan

pemahaman

antar

sesama

yang

merupakan sumber dari ketimpangan dan

konflik dari semua lapisan yang ada”. Jika

ditelaah

pendapat

tersebut,

setiap

individu

dituntut

memelihara

keseimbangan seperti keseimbangan

antara pendapatan dengan pengeluaran,

jika tidak mampu membuat keseimbangan

akan mengakibatkan perilaku pegawai

akan menyimpang dri norma seperti

meminta kutipan-kutipan dari masyarakat

(klien) ketika mereka mengurus SIUP.

b. Dimensi Motivasi.

Jika mencermati model perilaku yang

dikemukakan

Mar’at

(1981)

dorongan merupakan pijakan awal

Sasaran/tujuan yang bernilai terhadap mana berbagai

pola sikap dapat diorganiser

Kesiapan secara umum untuk suatu tingkah laku

bermotivasi

Sikap

Kesiapan ditujukan pada sasaran dan dipelajari

untuk tingkah laku bermotivasi

Motivasi

Dorongan

Keadaan orgasme yang mengisiasikan ke-

cenderungan kea rah aktivitas umum

Nilai

Gambar 1 : Hubungan antara Dorongan, Motif, Sikap dan Nilai

(Sumber : Mar’at, 1981)