< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 8 of 8

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.7, No. 1

112

H a l a m a n

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan,

maka dapat diambil kesimpulan sebagai

berikut :

1.

Dalam campuran beton adanya kadar

tanah kohesif akan mengakibatkan

penurunan nilai kuat lentur beton

tersebut. Besarnya persentase penu-

runan kuat lentur beton terhadap

beton dengan kadar tanah kohesif 0

% dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5.

Persentase Penurunan Nilai Karakteristik

Kuat Lentur Akibat Kadar Tanah Kohesif

2.

Kemudahan pekerjaan adukan beton

segar dipengaruhi dengan adanya ka-

dar tanah kohesif dalam campuran

beton tersebut. Semakin besar kadar

tanah kohesif akan semakin kecil

harga slump yang berarti akan lebih

sulit dalam pengerjaan adukan beton

segar.

Besarnya

persentase

penurunan nilai slump akibat kadar

tanah kohesif terhadap slump beton

dengan kadar tanah kohesif 0 %

dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6.

Persentase Penurunan Nilai Slump Akibat

Kadar Tanah Kohesif

Penambahan Kadar

Tanah Kohesif (%)

Kuat Lentur Beton

K-300 (%)

5

13,09

10

22,17

Penambahan Kadar

Tanah Kohesif (%)

Nilai Slump Beton

K-300 (%)

5

12,64

10

27,59

Saran

1. Disarankan

dalam

pengerjaan

campuran beton di lapangan harus

memperhatikan

bahan-

bahan

material, seperti agregat kasar atau

halus jangan terkontaminasi dengan

tanah kohesif, biasanya dalam agregat

kasar/kerikil tanah kohesif akan

terbawa karena menempel pada kerikil

tersebut, sehingga kita disarankan

harus

memperhatikan

kebersihan

kerikil. Pada agregat halus/pasir kita

bisa melihat warna dari pasir. Air yang

baik dalam campuran beton adalah air

yang bersih, jika mendapatkan air yang

kotor atau keruh bisa dipastikan air

tersebut mengandung tanah kohesif.

2. Disarankan

dalam

penelitian

selanjutnya harus dilengkapi dengan

pengujian kuat tekan, juga tanah

kohesif yang akan digunakan dalam

penelitian harus di uji dulu sehingga

diambil kesimpulan bahwa tanahnya

termasuk sebagai tanah kohesif, juga

dilengkapi dengan penelitian terhadap

agregat (agregat halus dan kasar),

dikarenakan biaya yang tersedia tidak

mencukupi

sehingga

pengujian-

pengujian

di

atas tidak

dapat

dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Bowles, J.E. (1986). Sifat-Sifat Fisis dan

Geoteknis Tanah. Jakarta: Erlangga.

Mindess, S., & Young, J.F. (1981). Concrete.

New

Jersey:

Prentice

Hall,

Inc

Englewood Cliffs.

Sagel, R., Kole, P., & Kusuma, Gideon.

(1994). Pedoman Pengerjaan Beton.

Jakarta: Erlangga.

Murdock, J.L., & Brook. M. K. (1999). Bahan

dan Praktek Beton. Jakarta: Erlangga.

Sastraatmadja, Soerjadedi. (2004). Modul

Laboratorium

Bahan

Konstruksi.

Bandung: Pelatihan UPTPB.

Yatna Supriatna