< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14Page 15Page 16Page 17Page 18Page 19

Page 8 of 19
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.7, No. 2

256

H a l a m a n

Marliana Budhiningtias Winanti

seseorang yang berhubungan dengan

sadar yang tidak hanya mengakui

keberadaan nilai tetapi juga kreatif untuk

menemukan nilai-nilai baru (Zohar &

Marshall, 2000:1).

Menurut

Zohar

&

Marshall

(2000:15)

ada

sembilan

ciri

pengembangan kompetensi spiritual yang

tinggi, yaitu:

Kemampuan bersikap fleksibel atau

adaptif

Tingkat kesadaran diri yang tinggi

Kemampuan untuk menghadapi dan

mengatasi penderitaan

Kemampuan untuk menghadapi dan

melampaui rasa sakit

Kualitas hidup yang diilhami oleh visi

dan nilai-nilai

Keengganan

untuk

membuat

kerugian yang tidak perlu

Kecenderungan untuk melihat segala

sesuatu secara holistik

Kecenderungan untuk selalu bertanya

mengapa

Memiliki kemudahan untuk melawan

konvensi

Kinerja Karyawan

Kinerja karyawan dalam periode

waktu tertentu perlu dievaluasi atau dinilai

karena

penilaian

terhadap

kinerja

karyawan merupakan bagian dari proses

staffing, yang dimulai dari proses

rekrutmen, seleksi, orientasi, penempatan,

pelatihan dan proses penilaian kerja

(Syafaruddin alwi, 2001: 177). Kenyataan

dewasa ini menunjukkan masih relatif

banyak organisasi atau perusahaan

mengabaikan fungsi penilaian terhadap

kinerja. Padahal penilaian terhadap

kinerja merupakan bagian yang sangat

penting dari manajemen kinerja dan

mungkin juga sistem penilaian yang

diterapkan tidak sesuai dengan kultur

organisasi yang dikembangkan sehingga

tidak mendorong motivasi kerja. Hal ini

mengakibatkan adanya proses penilaian

kinerja

yang

cenderung

bersifat

administratif, subjektif, dan kurang memiliki

daya pembeda yang valid.

Pengertian

kinerja

menurut

Benardin dan Russell (1998: 239) adalah

outcome

fungsi atau aktivitas pekerjaan secara

khusus selama periode waktu tertentu.

Menurut Wood et al. (2001: 114) kinerja

merupakan suatu pengukuran ringkas dari

kuantitas dan kualitas kontribusi tugas-

tugas yang dilakukan oleh individu atau

kelompok untuk kerja unit atau organisasi.

Kriteria Pengukuran Kinerja

Dalam

mengukur

kinerja,

masalah yang paling pokok adalah

menetapkan kriterianya. Kriteria pekerjaan

adalah faktor yang terpenting dari apa yang

dilakukan orang di pekerjaannya. Dalam

arti, kriteria pekerjaan menjelaskan apa-apa

yang sudah dibayar oleh organisasi untuk

dikerjakan oleh para karyawannya. Oleh

karena itu, kriteria-kriteria ini penting.

Kinerja individual dalam kriteria pekerjaan

haruslah diukur, dibandingkan dengan

standar yang ada dan hasilnya harus

dikomunikasikan kepada setiap karyawan.

Tidak semua kriteria pekerjaan

dapat digunakan dalam suatu penilaian

kinerja karyawan, hal ini tentunya harus

sangat disesuaikan dengan jenis pekerjaan

yang akan dinilai. Menurut Benardin &

Russell (1998 : 383) ada 6 (enam) kriteria

primer yang dapat digunakan untuk

mengukur kinerja :

Quality

proses atau hasil pelaksanaan kegiatan

mendekati

kesempurnaan

atau

mendekati tujuan yang diharapkan.

Quantity

dihasilkan, misalnya jumlah rupiah,

jumlah unit, jumlah siklus kegiatan yang

diselesaikan.

Timeliness

suatu kegiatan diselesaikan pada waktu

yang

dikehendaki

dengan

memperhatikan koordinasi output lain

serta waktu yang tersedia untuk

kegiatan lain.