Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6

Page 1 of 6
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.7, No. 2

193

H a l a m a n

BENTUK KECURANGAN PADA LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH

SRI DEWI ANGGADINI

Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Komputer Indonesia

Kegiatan bank memiliki resiko tinggi yang berurusan dengan uang

dalam jumlah yang sangat besar sehingga dapat menimbulkan niat orang-orang

yang terlibat di dalamnya untuk melakukan kecurangan. Bank syariah secara

resmi telah diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun 1992, yaitu dengan

diberlakukannya UU No.7 1992 ttentang perbankan. Perkembangan perbankan

syariah hingga saat ini masih menunjukkan pertumbuhan yang belum

menggembirakan, baik jaringan maupun volume usaha jika dibandingkan

dengan pertumbuhan bank konvensional. Banyak tantangan dan permasalahan

yang dihadapi yaitu bagaimana penerapan suatu sistem dan prosedur

perbankan yang memiliki sejumlah perbedaan prinsip dengan sistem yang

sudah dominan, agar tidak menimbulkan kecurangan yang akan merugikan

semua pihak.

bidang

HUMANIORA

I. PENDAHULUAN

Merujuk pada artikel yang

berjudul “Mungkinkah ada Korupsi di

Bank Syariah?” pada harian Republika

25 Mei 2005, Zainulbahar Noor selaku

Komisaris dan Mantan Direktur Utama

Bank

Muamalat

mengemukakan

pendapat bahwa penerapan aturan

cash basisaccrual

basis

accrual basis

dapat disalahterapkan untuk menyulap

bank yang tadinya merugi menjadi bank

yang

untung.

Dalam

hal

ini,

pengkorupsian yang terjadi memiliki arti

pemalsuan angka-angka neraca dan laba

rugi. Tindak kejahatan pada sebuah

lembaga usaha dilakukan oleh manusia-

manusia yang mengoperasikannya.

Pada hakikatnya sistem itu baik

dan dibuat sedemikian rupa agar semua

terkoordinasi dengan lancar. Di dalam

suatu system, tidak terlepas dari adanya

staff-wrong doings, fraud, tindakan

kriminal dan korupsi. Oleh karena itu, di

dalam suatu lembaga termasuk lembaga

keuangan

khususnya

bank

harus

Standard

Operating

Procedures

(SOP)

yang

lengkap dan kuat teruji.

Kelemahan

di

bank-bank

pada

khususnya adalah dalam hal tidak

lengkap dan sempurnanya sistem dan

prosedur,

demikian

pun

dalam

penerapan, pelaksanaan audit dan

kontrolnya.