< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 8 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.7, No. 2

214

H a l a m a n

dengan para pegawai. Komunikasi

lebih jelas, dan model tentang peran

lebih terlihat pada suatu organisasi

kecilsehingga mempertinggi peluang

untuk menyebarluaskan nilai-nilai

yang baru.

kekuatan

dari

budaya

yang

berlalu.

dianut dan makin tinggi kesetujuan

diantara para anggota mengenai nilai-

nilai budaya itu, maka makin sukar

pula

untuk

menggantikannya.

Sebaliknya, budaya yang lemah lebih

dapat disesuaikan dengan perubahan

daripada budaya yang kuat.

tidak

adanya

sub-budaya.

Heterogenitas

meningkatkan

perhatian

para

anggota

untuk

melindungi

kepentingan

pribadi

mereka

dan

untuk

menentang

perubahan. Oleh karena itu,kita dapat

memperkirakan bahwa makin banyak

sub-budaya,maka makin besar pula

tantangan

terhadap

perubahan

budaya yang dominan. Tesis ini dapat

juga dihubungkan dengan ukuran

organisasi.organisasi yang lebih besar

akan

mempunyai

daya

tahan

terhadap perubahan budaya karena

organisasi

demikian

cenderung

memiliki lebih banyak sub-budaya.

G. Budaya organisasi dan Keefektifan

organisasi

Bagaimana

budaya

mempe-

ngaruhi keefektifan organisasi? Untuk

menjawab pertanyaan ini, pertama kita

perlu membedakan budaya yang kuat dari

yang lemah. Budaya yang kuat dicirikan

oleh nilai inti dari organisasi yang dianut

dengan kuat, diatur dengan baik, dan

dirasakan bersama secara luas. Makin

banyak anggota yang menerima nilai-nilai

inti,

menyetujui

jajaran

tingkat

kepentingannya, dan merasa sangat

terikat kepadanya, maka makin kuat

budaya tersebut. Nilai-nilai inti adalah 4

jenis budaya atau disebut juga kuadran

budaya yang dibentuk dari 2 dimensi

utama (dimensi pertama dan kedua), yang

dirasakan atau dikehendaki dan diyakini

mempengaruhi keefektifan organisai dan

kinerja sesuai tantangan perubahan

lingkungan. Dua dimensi utama tersebut

bersama-sama membentuk 4 kuadran

budaya atau disebut juga jenis budaya.

Dimensi utama merupakan indikator

keefektifan organisasi

Dimensi pertama membedakan kriteria

keefektifan yang menekankan fleksibilitas,

keleluasaan (discretion) dan dinamis,

dengan/dari kriteria keefektifan yang

menekankan stabilitas, tatanan dan

kontrol.

Dimensi kedua membedakan kriteria

keefektifan yang menekankan pada

orientasi internal, integrasi dan kesatuan

dengan/dari kriteria keefektifan yang

menekankan pada orientasi eksternal,

diferensiasi (pembedaan) dan pesaingan.

turn over

anggotanya konstan, mempunyai budaya

yang lemah karena para aggota tidak

mempunyai pengertian yang sama dan

pengalaman yang diterima bersama. Ini

jangan diartikan bahwa semua organisasi

yang sudah matang dengan anggota yang

stabil akan mempunyai budaya yang kuat.

Nilai intinya juga dianut dan dijunjung

kuat.

Organisasi agama, kebathinan, dan

perusahaan jepang merupakan contoh

organisasi yang mempunyai budaya yang

kuat. Perilaku para anggota organisasi

yang mempunyai budaya yang kuat akan

mempengaruhi peningkatan keeektifan

organisasi dan kinerjanya.

The strategic serources are ideas and

information that come out af our minds

and determined by the quality of our

thought

amat bergantung pada cara berfikir orang

tersebut, terlebih sumber daya strategis

berasal dari gagasan dan informasi yang

keluar dari pikiran kita. Belajar bagaimana

proses berfikir, berfikir dan belajar akan

menyelamatkan manusia dari lebah

kehancuran dan mampu mendorong

manusia pada kemajuan peradaban.

Apapun karya manusia yang pernah ada

Lita Wulantika