< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14

Page 3 of 14
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.8, No. 1

79

H a l a m a n

asimetris adalah RSA dan ECC.

Gambar 2. Proses Enkripsi/Dekripsi Kripto-

grafi Kunci Publik

Algoritma RSA dibuat oleh tiga orang

Massachussets Institute of

Technology

Rivest, Adi Shamir dan Leonard Adleman.

RSA adalah salah satu teknik kriptografi

dimana kunci untuk melakukan enkripsi

berbeda dengan kunci untuk melakukan

dekripsi. Kunci untuk melakukan enkripsi

disebut sebagai kunci publik, sedangkan

kunci untuk melakukan dekripsi disebut

sebagai kunci privat. Orang yang mempun-

yai kunci publik dapat melakukan enkripsi

tetapi yang dalam melakukan dekripsi han-

yalah orang yang memiliki kunci privat.

Kunci publik dapat dimiliki oleh sembarang

orang, tetapi kunci privat hanya dimiliki oleh

orang tertentu saja.

Untuk pembangkitan pasangan kunci

RSA, digunakan algoritma sebagai berikut.

1. Dipilih dua buah bilangan prima sem-

pqpq

harus dirahasiakan.

n = p x qn

dirahasiakan.

m = (p – 1)(q – 1)

4. Dipilih sebuah bilangan bulat sebagai

e

m

em

pembagi terbesar keduanya adalah 1,

secara matematis disebut gcd (e,m) = 1.

Untuk mencarinya dapat digunakan algo-

ritma Euclid

d

(d x e) mod m = 1

d

juga digunakan algoritma Extended

Euclid.

Maka hasil dari algoritma tersebut

diperoleh :

(e,n)

(e,m)

n

kan pada perhitungan enkripsi/dekripsi.

Keamanan algoritma RSA terletak pada

tingkat kesulitan dalam memfaktorkan bi-

langan non prima menjadi faktor primanya,

n = p x qn

pqm = (p –

1)(q – 1)

e

d

(d x e) mod n = 1

lama belum ditemukan cara untuk memfak-

torkan bilangan besar menjadi faktor-faktor

primanya, maka selama itu pula keamanan

algoritma RSA terjamin.

Penemu algoritma RSA menyarankan nilai

pq

n = p x q

berukuran lebih dari 200 digit. Dengan

asumsi bahwa algoritma pemfaktoran yang

digunakan adalah algoritma yang tercepat

saat ini dan komputer yang dipakai mem-

punyai kecepatan 1 milidetik, menurut

Rivest dan kawan-kawan, usaha untuk men-

cari faktor bilangan 200 digit membutuhkan

waktu komputasi selama 4 milyar tahun.

Untuk algoritma enkripsi menggunakan

RSA adalah sebagai berikut.

PlaintextM

m

1

, m

2

, …

blok merepresentasikan nilai di dalam

[0, n – 1]

m

i

harus terletak dalam himpunan nilai 0,

n – 1

perhitungan tidak berada di luar him-

punan)

m

i

c

i

c

i

= m

ie

mod n

Sedangkan untuk dekripsi, maka setiap blok

ciphertextc

i

-

m

i

m

i

= c

id

mod n

Mode Operasi Chiper Block Chaining

Karena akan diimplementasikan untuk

menyandikan data transkrip akademik

mahasiswa, algoritma RSA ini akan

Chiper Block

Chaining

Tri Rahajoeningroem & Muhammad Aria