Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 1 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.8, No. 2

243

H a l a m a n

Pertambahan kebutuhan rumah simultan dengan kebutuhan tanah di mana

rumah itu berdiri. Di sisi lain, terdapat keterbatasan lahan di perkotaan untuk

memenuhi kebutuhan tanah untuk perumahan. Pemenuhan kebutuhan

perumahan secara formal dilakukan oleh pengembang perumahan.

Pengembang perumahan dalam skala besar membutuhkan lahan yang harus

dikuasai/dibebaskan pengembang dalam skala besar pula. Pengembang

biasanya menemui kesulitan penguasaan dan pembebasan lahan untuk

perumahan bila status kepemilikan atas tanah beragam. Kawasan Gedebage

menjadi kawasan studi mengingat kawasan ini memang direncanakan untuk

menjadi kawasan permukiman di Bandung Timur, Pengembang perumahan juga

banyak melakukan pengembangan kawasan perumahan di kawasan Bandung

Timur, khususnya Gedebage. Tulisan ini menguraikan bagaimana potensi dan

kendala pengembangan kawasan perumahan oleh pengembang real estat di

Gedebage, dengan melihat status tanah dan preferensi pengembang

perumahan.

Kata kunci: perumahan, status tanah, pengembang perumahan, real estat,

Gedebage

bidang

REKAYASA

KAJIAN PENGEMBANGAN LAHAN UNTUK KAWASAN PERUMAHAN KOTA BANDUNG

DITINJAU DARI ASPEK STATUS KEPEMILIKAN TANAH DAN

PREFERENSI PENGEMBANG PERUMAHAN

STUDI KASUS: KECAMATAN GEDEBAGE, KOTA BANDUNG

ILHAMDANIAH, ST, MT, MSc

Jurusan Teknik Arsitektur UNIKOM

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertumbuhan kebutuhan rumah di Kota

Bandung terus meningkat seiring dengan

pertumbuhan

penduduk.

Pertambahan

kebutuhan

rumah

simultan

dengan

kebutuhan tanah di mana rumah itu berdiri,

karena memang preferensi konsumen

perumahan di Bandung masih berpihak

landed house

elevated house

(apartemen/rumah susun). Pertumbuhan

kebutuhan

rumah

itu

diproyeksikan

meningkat. Penyediaan rumah di Kota

Bandung juga diproyeksikan meningkat

dengan peran serta berbagai aktor.

Pengembang

perumahan

merupakan

supply

yang menyediakan sebagian besar stok

perumahan

baru

secara

formal.

Berdasarkan perhitungan, masih terdapat

gap antara kebutuhan (demand) dan

supply

2004).

Di sisi lain, ada keterbatasan lahan di

perkotaan untuk memenuhi kebutuhan

tanah untuk perumahan. Kota Bandung

sendiri

telah

menetapkan

kawasan

Bandung Timur sebagai kawasan yang

diperuntukkan

bagi

perumahan

dan

permukiman (RTRW Kota Bandung, 2011).