< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 2 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.8, No. 2

254

H a l a m a n

depan ketersediaan sarana dan prasarana

tidak cukup optimal untuk memajukan

perekomian kita.

Selain hal tersebut di atas, terdapat

perusahaan-perusahaan menengah besar

dan strategis yang mampu memberikan

andil yang signifikan terhadap pertumbuhan

ekonomi nasional pada masa sebelum krisis

telah mengalami kelumpuhan. Sebagian

lainnya dinyatakan pailit baik karena faktor

mismanagement

karena faktor ekstern seperti kehilangan

fasilitas dan kondisi pemerintahan yang

tidak menguntungkan. Meskipun demikian,

ada sejumlah perusahaan menengah besar

lainnya yang mampu terus bertahan dan

bahkan beberapa diantaranya menunjukan

tendensi

pertumbuhan

yang

berarti.

Sejumlah perusahaan yang dapat bertahan

tersebut diduga kuat telah memiliki daya

tahan yang tinggi dalam persaingan pasar

yang ketat. Upaya pemulihan ekonomi harus

disertai dengan upaya optimal dengan

mendorong

perusahaan-perusahaan

menengah besar dan strategis yang masih

berjalan untuk melakukan daya saing

dengan mengoptimalkan seluruh potensi

yang tersedia. Upaya tersebut dapat

dilakukan melalui peningkatan daya saing

dan regional termasuk mengantisipasi

persaingan yang tajam sejalan dengan

diberlakukannya AFTA 2003.

Persaingan usaha di masa depan

akan lebih diwarnai oleh persaingan

kualitas produk dan/atau jasa, kecepatan,

harga serta kualitas pelayanan-nya.

Dengan demikian perusahaan harus

mampu menawarkan produk dan layanan

dengan nilai lebih, sejalan dengan

tuntutan konsumen yang terus berubah.

Bila perusahaan telah memenangkan

persaingan kualitas produk dan layanan

tidak menjamin perusahaan tersebut akan

berkembang cepat. Faktor eksternal seperti

misalnya

peraturan,

kebijakan

dan

infrastrukturpun

menjadi

faktor

yang

menentukan. Untuk memberikan kondisi

kondusif bagi kegiatan usaha maka

pemerintah telah menggariskan kebijakan

yang mengatur kegiatan usaha tersebut.

Tujuan studi ini adalah mengkaji

konsep persaingan usaha dan daya saing,

perkembangan usaha menengah dan besar

di Indonesia serta kasus persaingan usaha

menegah dan besar di Pulau Batam dan

Kota Makassar.

KONSEP PERSAINGAN USAHA DAN DAYA

SAING

Persaingan dalam dunia usaha

merupakan

syarat

mutlak

bagi

berlangsungnya ekonomi pasar. Pasar

persaingan sempurna secara absolut hanya

terdapat dalam teori, sedangkan pasar

monopoli dan oligopoli justeru sering

ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pasar persaingan sempurna adalah suatu

pasar yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut

(Putong, 2002): a) pembeli dan penjual

sangat banyak, b) jumlah barang yang

diperjualbelikan banyak dan seragam

(homogen), c) bebas keluar dan masuk bagi

pengusaha, d) pengetahuan pembeli dan

penjuan mengenai pasar relatif sempurna,

dan e) mobilitas sumber-sumber ekonomi

cukup sempurna.

Banyak

faktor-faktor

yang

menyebabkan

suatu

perusahaan

memonopoli pasar komoditi tertentu, antara

lain

sumberdayanya

eksklusif,

skala

ekonomi atau monopoli alamiah, kebijakan

pemerintah yang cenderung eksklusif pada

pihak tertentu, dan 4) keterbatasan aspek

legalitas yang mengatur tentang persaingan

usaha. Persaingan monopoli dalam banyak

kasus banyak tidak disukai dalam praktek

ekonomi, karena perusahaan pemegang

monopoli dapat bertindak sewenang-

wenang

kepada

masyarakat

dalam

menentukan harga.

Daya

saing

merupakan

syarat

keharusan agar industri mampu bersaing

pada pasar domestik dan pasar global.

Pada era perdagangan bebas saat ini

terdapat

konsekuensi

yang

dihadapi

Indonesia dalam kaitannya dengan daya

saing yaitu: a) modal asing masuk disertai

anak-anak cabangnya, b) percepatan

inovasi produk dan diversifikasi pemasaran,

c) peningkatan kompetisi pasar domestik

dan investasi ke luar negeri.

Lia Warlina