< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14

Page 8 of 14
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.10 No. 1

58

H a l a m a n

menyerap produk dalam jumlah yang besar,

sehingga tidak mau lagi membeli produk

melalui perantara (distributor), melainkan

bila

dimungkinkan

akan

langsung

berhubungan dengan produsennya. Para

produsen tentunya banyak yang tidak bisa

mengelak dengan tawaran seperti itu, sebab

melihat potensi penjualannya berjumlah

besar.

Dalam menciptakan arus pendapatan pola

peritel besar terbagi dua: Pertama,

mengutip dari margin produk yang dijualnya,

yang merupakan bisnis intinya. Kedua,

mengutip fee dari berbagai jalur yang

disebut juga another income. Selain aneka

fee tersebut, banyak hypermarket juga

menambah sumber pendapatan dari rental

space seperti adanya checkout centre atau

rak dekat kasir, yang dijual per shelf dengan

harga Rp 100 - 200 ribu per bulan.

Meskipun dibebani berbagai pungutan,

peritel besar tetap menjadi daya tarik yang

kuat bagi pemasok karena beberapa

keunggulan yang ditawarkannya. Selain itu,

banyak pemasok-pemasok melihat, menjual

di peitel besar memungkinkan meraih

omzet dalam jumlah besar hanya melalui

beberapa gerai yang mudah dikontrol. Hal

ini dimungkinkan karena rata-rata gerai

peritel besar Indonesia punya luas 5 ribu

m

2

. Selain itu, bagi pemasok, bisa menjual

produknya di peritel besar juga menjadi

gengsi tersendiri, karena berarti produknya

diakui peritel modern.

Penjualan produk oleh peritel besar

dilakukan

secara

langsung

kepada

konsumen. Produk yang dijual telah

dilengakapi oleh label harga yang jelas,

sehingga tidak terjadi tawar menawar harga

antara pembeli dan penjual. Penjualan yang

dilakukan dalam partai kecil (eceran) ini

umumnya dibayar secara cash dengan uang

kontan maupun dengan menggunakan

Model Pembiayaan UKM Pemasok ke Peritel

Besar

Model pembiayaan untuk melindumgi UKM

pemasok peritel besar secara garis besar

melibatkan 3 lembaga yaitu UKM, Peritel

besar dan Lembaga Pengelola Keuangan.

Ketiga lembaga tersebut merupakan satu

sistem yang saling terkait yang memiliki

peran dan fungsi yang berbeda, namun

harus saling mendukung, dan saling

ketergantungan sehingga diperlukan adanya

sinergitas diantara ketiga lembaga tersebut.

Oleh karena itu perlu disusun mekanisme

kerja yang jelas diantara ketiga lembaga

tersebut. Model pembiayaan untuk

Melindumsgi UKM pemasok ke Peritel

besar seperti pada Gambar 6.

Keterangan Gambar 6:

1. UKM

memasok/mensuply

barang/

produk kepada Peritel Besar

2. Setelah mensuplply barang/Produk UKM

akan menerima Invoice (Faktur) dengan

lama pembayaran 15 – 75 hari, setelah

barang diterima oleh Peritel Besar.

3. Invoice produk/barang UKM di kirimkan

kepada lembaga pengelola/pelaksana

skim pembiayaan (Bank/NON bank/

Koperasi/LPDB)

4. Lembaga Pengelola/Pelaksana Skim

pembiayaan

melakukan

koordinasi

dengan Peritel besar untuk klarifikasi

tentang kebenaran invoce.

5. Setelah koordinasi dengan Peritel besar

dan invoicenya telah divalidasi, maka

Lembaga Pengelola membayar 80

persen dari invoice yang diajukan UKM.

6. Setelah jatuh tempo, maka Lembaga

pengelola/pelaksana skim pembiayaan

melakukan penagihan kepada peritel

besar atas Invoice dari UKM.

7. Peritel besar melakukan pembayaran

kepada Lembaga Pengelola/pelaksana

skim pembiayaan sebanyak 100 %.

8. Lembaga pembiayaan membayarkan

sisa pembayaran kepada UKM setelah di

potong pokok pembayaran 80% dan fee

lembaga

pengelola/pelaksana

skim

pembiayaan (tergantung kesepakatan

Lembaga pembiayaan dan UKM.

Model Kredit di atas, berbeda dengan

model kredit yang telah ada, di mana model

Dr. Kartib Bayu, Ir.,M.Si., Dr. Dedi Sulistiyo S, ST.,MT