Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 1 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.10 No. 1

107

H a l a m a n

ANALISIS UNSUR INTRINSIK

HACHIKO MONOGATARI

PITRI HARYANTI, S.Pd,M.Pd

Jurusan Sastra Jepang

Fakultas Sastra

Universitas Komputer Indonesia

Selain Linguistik, karya sastra Jepang pun sangat menarik untuk

dianalisis salah satunya adalah novel Hachiko Monogatari karya

Kaneto

Shindo. Novel ini bercerita tentang seekor anjing setia yang karena setianya,

dibangun patung memorial untuk mengenangnya di stasiun Shibuya, Tokyo.

Untuk menganalisis unsur intrinsik novel ini digunakan metode analisis isi

dengan pendekatan struktural sehingga dapat diambil kesimpulan mengenai

penokohan, alur, latar dan amanat yang terkandung dalam novel ini.

PENDAHULUAN

Cerita Hachiko merupakan cerita

yang berdasarkan pada kisah nyata di

Jepang. Hachiko adalah seekor anjing setia

yang karena kesetian kepada majikannya,

sampai-sampai dibuatkan patung memorial

untuk mengingatnya. Patung Hachiko

terdapat di dekat pintu stasiun Shibuya

Tokyo, dimana dia biasa menunggu

majikannya. Patung ini dibuat pada masa

perang dunia ke dua dan direnovasi

kembali setelah perang dunia ke dua. Pada

masa sekarang, tempat tersebut sering

dijadikan tempat untuk menunggu teman,

atau tempat janjian.

Mungkin terdapat beberapa versi

mengenai cerita Hachiko ini tetapi yang

akan penulis mencoba bahas adalah cerita

Hachiko yang ditulis oleh Kaneto Shindo

yang diterbitkan oleh Shogakukan pada

terbitan yang ke-20 tahun 1981.

Kaneto Shindo lebih dikenal

sebagai seorang penulis skenario dan

sutradara film Jepang. Dia lahir pada 28

April 2008. Dia memulai karir sebagai

penulis scenario film di bawah bimbingan

Kenji Mizoguchi, seorang sutradara

professional. Film yang dikenal secara

intenasional adalah film yang berjudul

Naked Island yang tidak memakai dialog

tetapi hanya memakai musik. Karena cerita

dan penyampaiannya yang unik inilah dia

mendapatkan penghargaan dalam Moscow

Festival in 1960.

Cerita Hachiko yang ditulis oleh

Kaneto Shindo disampaikan dengan

bahasa yang mudah dimengerti oleh

pembaca terutama oleh pembelajar bahasa

Jepang karena buku tersebut menggunakan

bahasa yang biasa dipakai sehari-hari.

Disamping cerita dan penuturannya yang

bagus sehingga membuat pembaca dapat

membayangkan dan merasakan keadaan

yang digambarkannnya, penggunaan

bahasa Jepang yang mudah dimengerti pun

menjadi alasan penulis kenapa memilih

Hachiko Monogatari

Shindo ini sebagai objek penelitian. Karena

dengan bisa memahami inti keseluruhan isi

dari cerita maka akan mudah bagi penulis

untuk dapat menganalisisnya.

Dalam makalah ini penulis akan

Hachiko

Monogatari

Yaitu:

bidang

HUMANIORA