< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14Page 15Page 16Page 17Page 18Page 19Page 20

Page 4 of 20
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.10 No. 1

126

H a l a m a n

ekstern

suatu yang sama (Azhar Susanto, 2008:63).

Berkembang pesatnya teknologi

informasi yang ditandai dengan adanya fitur

-fitur penting yaitu tingginya kecepatan

(high speed data process-

ing)(extremely

high accuracy)

(high speed access to informa-

tion)up-to-date

han informasi (Salehi dan Abdipour,

brainware

sangat penting, karena keterlibatan sumber

daya manusia sebagai pemantau, pengop-

erasi dan pengguna sistem informasi mem-

berikan dampak kepada manajemen serta

ikut menentukan kesuksesan organisasi

(Azhar Susanto, 2008:253).

Persepsi yang berbeda mengenai

penerapan sistem informasi antara staf IT,

mainstream staff

pat mengganggu upaya integrasi sistem

informasi (Davies dan Heeks, 1999). Dalam

ITernal triangle

Davies, 1999) Top manajemen memiliki

persepsi ragu-ragu untuk mengintegrasikan

sistem informasi baru karena mereka

kurang mengerti teknologi dan peran infor-

masi dalam organisasi dan takut kehilangan

control

dangan teknis saja serta kurang mene-

Main-

stream staff

grasi sistem informasi dan paham arti

user

Stereotip yang didefinisikan oleh

Heeks dan Davies (1999) tersebut muncul

pada kasus integrasi sistem informasi baru

Garuda Indonesia dimana manajemen pun-

cak Garuda Indonesia waspada terhadap

teknologi tetapi tidak memiliki pemahaman

atas sistem informasi, sedang staf IT paham

secara teknis tapi tidak memahami rencana

strategis perusahaan (Sohirin, 2010). Keti-

dakselarasan tujuan, perbedaan interpretasi

fakta, ketidaksepahaman yang disebabkan

oleh ekspektasi perilaku tersebut akan

berubah menjadi suatu konflik (Robbins dan

Judge, 2007:173). Kesenjangan tersebut,

(Micro Level Resistance) (

human

natureindividual’s personality

dasar terbentuknya budaya organisasi

diri berupa kesenjangan persepsi antara

manajemen dan staff ini, merupakan risiko

budaya, hal ini tentunya akan menghambat

organisasi terhadap adanya perubahan

teknologi informasi (Allen et al, 2004:87).

Sehingga implementasi sistem informasi

tidak mungkin sukses selama kesenjangan

persepsi tersebut terus berlanjut (Allen et

al., 2004:11).

Memahami budaya organisasi me-

rupakan hal penting untuk mengkaji sistem

informasi (Leidner dan Kayworth, 2006).

Budaya organisasi merupakan sebuah sis-

tem makna bersama yang dianut para ang-

gotanya yang membedakan suatu or-

ganisasi dengan organisasi lainnya (Robbins

dan Judge, 2007:256). Lebih lanjut budaya

organisasi menurut Claver et al. (2001) me-

rupakan suatu kumpulan nilai-nilai, simbol

dan ritual bersama para anggota dari peru-

sahaan, yang menggambarkan cara suatu

hal dilakukan dalam organisasi untuk me-

internal

eksternal

ganisasi berperan penting membentuk peri-

laku manajerial karena merupakan fondasi

lingkungan internal organisasi (Griffin,

2003:163). Hofstede (2002) menambahkan

bahwa budaya dibentuk pada dasarnya dari

human nature

individual’s personality

vidu).

Banyak kasus implementasi sistem

informasi berbenturan dengan budaya or-

ganisasi (Claver et al., 2001). Menurut

Cabrera et al., (2001) sekitar 80%-90% dari

proyek sistem informasi gagal memenuhi

(end

user, operator),program-

mer

anggota dari perusahaan dan terkait secara

langsung dengan sistem informasi dan

mereka merupakan bagian dari budaya or-

ganisasi pula. Sehingga tentunya dapat di-

pahami bahwa budaya organisasi terkait

Siti Kurnia Rahayu