< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12

Page 5 of 12
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.10, No. 2

171

H a l a m a n

kapal angkatan laut Amerika Serikat

USS Cole dan melakukan pengeboman

kedutaan AS di Kenya dan Tanzania.

 Berdasarkan penelusuran terhadap

gerakan pembajak sebelum 11

September, para penyidik menemukan

beberapa diantara mereka bertemu

dengan orang bin laden dan secara

teratur menerima uang dan sokongan

dari jaringan terorisme Al-Qaeda.

Al-Qaeda berdasarkan perspektif AS

merupak kelompok terorisme yang

diciptakan oleh Osama Bin Laden antara

tahun 1984 dan 1986 (Rouiller, 2002),

yang menampung para sukaralawan

volunteers

dikirimkan ke Afghanistan melalui jaringan

-jaringannya yang jumlahnya sangat

banyak. Jaringan-jaringan Al-Qaeda ini

berkembang pesat di seluruh penjuru

dunia. Berdasarkan sumber-sumber dari

intelegen AS, Al-Qaeda memilki kriteria

tertentu dalam memilih wilayah untuk

mengembangkan jaringannya. Jaringan

tersebut akan dipercaya secara

organisasional

dan

operasional

infrasruktur, sehingga wilayah tempat

jaringan tersebut biasanya dengan kriteria

tertentu, antara lain (Rouiller, 2002) :

 Negara Berkembang, secara politis

tidak stabil, dengan komunitas muslim

dan infrastruktur muslim (mesjid, pusat

kebudayaan,

lembaga-lembaga

pendidikan Islami, dermawan, dan

sebagainya) yang cukup besar

jumlahnya.

 Adanya sejumlah kelompok agresor

yang didukung oleh AS.

 Adanya kemungkinan atau celah untuk

mengirimkan anggota-anggota Al-

Qaeda yang tersembunyi identitasnya.

Biasaya mereka dikirim pada

komunitas-komunitas masyarakat

muslim

Al-Qaeda juga digambarkan sebagai

kelompok terorisme yang tentu saja

sangat militan. Hal ini terlihat dari

bagaimana kelompok ini melatik para

anggotanya

tidak

saja

dengan

“Brainwashing”, tetapi juga melatih

kemampuan tempurnya. Peristiwa 11

Sept emb er

ad alah

b uk ti

yang

memperlihatkan bahwa kelompok teroris

kini telah mampu meningkatkan

kemampuan desdruktif-nya, dimana hanya

penggunaan kekuatan militer negara yang

dapat menanggulanginya (Gaddis, 2002).

Dengan beberapa kriteria wilayah pilihan

untuk Al-Qaeda memperluas jaringannya,

serta dengan karakter dan orientasi yang

dijelaskan sebelumnya, memperkuat

adanya pandangan yang mengatakan

bahwa Al-Qaeda memiliki jaringan yang

besar di wilayah Asia, khususnya Asia

Tenggara, karena jumlah populasi

Muslimnya besar. Oleh karena ini Asia

tenggara menjadi pilihan bagi Al-Qaeda

intu memperluas jaringannya.

Menurut AS ada beberapa hal yang

menjadi alasan Al-Qaeda untuk

membangun jaringan di Asia Tenggara

(Abuza, 2002) :

1. Ribuan penduduk Muslim Asia

Tenggara pernah dan ikut bergabung

dan berperang bersama pasukan

Mujiheddin pada tahun 1980-an.

2. Sejak awal 1980-an juga gelombang

orang Asia Tenggara yang belajar di

Univesitas Islam dan Madrasah Timur

Tengah bertambah secara dramatis.

3. S e r i n g n y a

p e m b e r o n t a k a n -

pemberontakan masyarakat Muslim di

kawasan Asia Tenggara terhadap

pemerintahan yang bersifat sekuler

(Saripudin HA, 2000). Islam radikal

berkembang begitu cepat di kawasan

ini bersamaan dengan perubahan

negara-negara menjadi lebih sekuler.

4. Asia Tenggara merupakan “surga” bagi

pertumbuhan jaringan teroris. Hal ini

dikarenakan lemahnya kekuatan polisi

dan aparat keamanan di Asia

Tenggara, sehingga dengan mudah

kelompok teroris beroperasi.

Dewi Triwahyuni