< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12

Page 6 of 12
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.10, No. 2

172

H a l a m a n

Selain itu, berdasarkan penyelidikan

intelegen AS, ada perkembangan jaringan

Al-Qaeda yang sangat cepat pada awal

1990-an, khususnya di kawasan Asia

pasifik, yaitu setelah Osama Bin Laden

berpindah dari Sudan ke Afghanistan pada

Mei 1996. Oleh karena itu ada 3 poin

perkembangan dalam formasi jaringan di

kawasan Asia, (sumber: http://

www4.janes.com), yaitu :

1. Al-Qaeda merekrut orang-orang Arab

dan Asia yang pernah menjadi

sukarelawan (jihad) anti-soviet.

2. Bin Laden telah mengkampanyekan

dan mensosialisasikan Platform yang

menggambarkan perekrutan atau

diadobsi dari Timur Tengah dannegara-

negara Asia.

3. Sejak awal 1990-an, Bin Laden

membangun jaringan dengan dua

group: the Moro Islamic Liberation front

(MILF) dan Abu Sayyaf Group (ASG) di

Philipina, yang telah membentuk para

teroris dan kemampuan memberontak.

Terbongkarnya kelompok Jamaah Islamiah

(JI) di Singapura semakin memperkuat

bahwa AL-Qaeda memilki jaringan yang

kuat di Asia Tenggara. Apalagi setelah

ditelusuri Organisasi JI ini memiliki cabang

di Malaysia dan Indonesia. Berdasarkan

penyelidikan bersama

intelegen

Singapura, Malaysia, dan Philipina,

Jamaah Islamiah yang berpusat di

Singapura didirikan oleh Hambali yang

masih menjadi buron dan Abdulah Ba’asyir

yang berada di Indonesia. Hanya saja

kepolisian Indonesia masih saja

menyangkal peranan Ba’asyir dalam

kegiatan terorisme (Clamor, 2002).

Bahwa kelompok Al-Qaeda sebagai

kelompok teroris dengan kemampuan

militer yang kuat dan hanya penggunaan

kekuatan militer negara yang dapat

menanganinya, serta tumbuh suburnya

jaringan-jaringan Al-Qaeda di seluruh

permukaan dunia, merupakan beberapa

faktor yang mempengaruhi kebijakan

perluasan militer AS di kawasan Asia

Tenggara. AS melihat bahwa hanya

dengan kekuatan militer dan kerjasama

militerlah teroris internasional ini dapat

diperangi dan Asia Tenggara merupakan

wilayah dimana Al-Qaeda dapat tumbuh

dengan cepat. Maka AS memilki alasan

yang kuat untuk mempeluas kehadiran

militernya di Asia Tenggara.

Perkembangan kawasan Asia Tenggara

dalam perspektif Amerika Serikat.

Pasca terjadinya serangan 11 September

2001, Asia Tenggara tiba-tiba saja

menjadi wilayah yang mendapat perhatian

khusus oleh negara-negara di dunia

terutama oleh Amerika Serikat (AS).

Sebelum serangan tersebut terjadi AS

sebenarnya

lebih

memfokuskan

perhatiannya terhadap negara-negara di

kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah.

Namun kemudian, ketika “war against

terrorism” dikumandangkan AS, dengan

cepat juga perubahan orientasi AS

berpindah pada Asia Tenggara.

Asia Tenggara merupakan kawasan yang

labil secara politis dan ekonomi yang

memuncak sejak tahun 1997. Ketika

krisis ekonomi mulai meradang pada

tahun 1997, diikuti dengan adanya krisis

politik, Asia tenggara juga diwarnai dengan

g e r a k a n - g e r a k a n

m e n e n t a n g

pemerintahan termasuk gerakan-gerakan

separatisme, bahkan aksi atau

demonstrasi anti-Amerika.

Ketika “perang melawan terorisme

internasional” mulai dikampanyekan,

dengan Al-Qaeda sebagai tersangka kuat

yang dituduh sebagai kelompok yang

harus bertanggung jawab dibalik kejadian

tersebut, maka dengan seketika

pandangan AS khususnya dan negara-

negara dunia memfokuskan diri terhadap

negara-negara dengan populasi Muslim di

dalamnya. Maka, Asia Tenggara pun

menjadi pusat perhatian karena jumlah

penduduk Muslimnya yang besar. Bahkan

Dewi Tri Wahyuni