< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12

Page 9 of 12
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.10, No. 2

175

H a l a m a n

dampak serangan 11 September bagi

negara-negara Asia Tenggara adalah

adanya perubahan perhatian dari

persoalan transisi demokrasi kepada isu-

isu stabilitas politik yang menjadi

tantangan baru akibat suburnya gerakan

Islam radikal (Snitwongse, 2002).

Namun yang menarik ada dampak yang

berbeda dari peristiwa 11 September

terhadap negara-negara ASEAN. Secara

ekonomis peristiwa ini memberikan efek

yang negatif (terutama bagi Indonesia)

karena pemberitaan mengenai eksistensi

jaringan

terorism e

dan

image

Ketidakstabilan serta ketidakamanan

mengecilkan tingkat invenstor asing dan

turis di Asia Tenggara.

Secara politis, 11 September telah

memberikan dampak positif bagi Malaysia

dan philipina. Hubungan Malaysia dengan

AS kembali membaik dengan kesepakatan

kerjasama memberantas terorisme,

setelah Mahathir Muhammad sempat di

kecam AS akibat kasus Anwar Ibrahim.

Philipina menjadi sangat solid dan mau

berlindung dibelakang AS dalam

menyelesaikan pemberontak Abu Sayyaf,

kelompok ekstrimis yang disinyalir

memiliki hubungan kuat dengan Al-Qaeda.

Hubungan antara AS-Philipina semakin

menguat dengan prospek semakin

besarnya dukungan AS terhadap

pemerintahan presiden Gloria macapagal-

Arroyo.

Dengan melihat begitu besarnya

kepentingan AS di kawasan Asia Tenggara,

terutama dalam rangka keinginan AS

untuk menjadi motor “perang” melawan

t e r o r i s m e

i n t e r n a s i o n a l ,

a k a n

mempengaruhi kebijakan AS untuk Asia

Tenggara. Perubahan yang paling adalah

dalam kebijakan militer, dimana AS

melihat Al-Qaeda sebagai kelompok teroris

dengan kemampuan besar yang hanya

mungkindapat diimbangi dengan

penggunaan kekuatan militer. Maka

kehadiran militer AS di kawasan Asia

Tenggara akan mengalami perluasan.

Perluasan Kehadiran Militer (Military

Presence) Amerika Serikat di Asia

Tenggara sebagai upaya memerangi

terorisme internasional.

Asia Tenggara dalam peta kepentingan

Amerika Serikat (AS) mengalami

perubahan seiring dengan perkembangan

sejarah. Perubahan konsep AS mengenai

kawasan Asia Tenggara secara dramastis

terjadi ketika Perang Vietnam berakhir

dimana dengan cepat Asia Tenggara

menjadi kawasan yang tidak terlalu

penting lagi bagi AS.

Akan tetapi perang Vietnam meskipun

menjadi kepentingan utama, namun

bukan merupakan satu-satunya alasan AS

menghadirkan militernya di Asia Tenggara.

Bagaimanapun Asia Tenggara menjadi

penting tidak saja bagi AS tetapi juga bagi

keamanan dunia, karena Asia Tenggara

merupakan garis pantai laut terpenting

untuk

transportasi

laut

dunia,

perdagangan dunia dan tentu saja untuk

pergerakan militer AS khususnya. Ada dua

kepentingan AS di Asia Tenggara (Smith,

2002), yaitu:

1. Asia Tenggara membuka garis laut,

karena perdagangan dunia banyak

sekali yang melewati jalur Malaka.

2. Asia Tenggara penting sebagai pos

untuk pergerakan kehadiran militer AS

di Pasifik Barat dan Samudra India.

Kehadiran militer AS di Asia Tenggara

sendiri telah berlangsung cukup lama.

Terutama sebagai akibat Perang Dingin,

Kehadiran militer Asing meningkat, tidak

saja untuk kepentingan kekuatan laut,

tetapi juga untuk kekuatan udara dan

darat. Dan selama masa Perang Dingin,

kehadiran militer AS di kawasan Asia

Tenggara dilatarbelakangi oleh dua tujuan

utama (Alagappa, 1986), yaitu:

Dewi Triwahyuni