< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14Page 15Page 16

Page 12 of 16
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.10, No. 2

258

H a l a m a n

keterbukaan informasi dan tanggung

jawab

sosial

perusaahaan

kepada

ood corporate

governance

pula arahan kepada pengurus agar dalam

mengejar

keuntungan

dan

mengembangkan usahanya, perusahaan

dapat melakukan pengelolaan secara etis

dan bertanggung jawab. Prinsip-prinsip

praktik GCG menghendaki adanya suatu

upaya

untuk

melindungi

dan

menyeimbangkan kepentingan antara

pemegang

saham

dengan

para

stakeholders

lainnya

accountability,

independece and fairness

Prinsip Accountability

(

dalam

penelitiannya

accountability

adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem

dan

pertangungjawaban

organ

perusahaan sehingga pelaksaan dapat

berjalan

dengan

,

independece

perusahaan dikelola secara profesional

tanpa

benturan

kepentingan

dan

pengaruh/tekanan dari pihak manapun

yang tidak sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku dan

prinsip

fairness

kejelasan hak-hak pemodal, sistem,

hukum dan penegakan aturan untuk

melindungi hak-hak investor khusunya

pemegang saham minoritas dari berbagai

fraud

Perlindungan ini menurut Mas Ahmad

Daniri (2005), membutuhkan adanya

sistem pengendalian internal, komisaris

yang

independen,

komite

audit,

manajemen risiko yang baik. Untuk

lingkungan Badan usaha Milik Negara

(BUMN) sistem audit dan peran audior

internal dikenal dengan nama Satuan

Pengawasan Internal (SPI). SPI pada

intinya merupakan alat untuk dapat

melindungi

perusahaan

terhadap

penyelewengan finansial dan hukum,

serta

untuk

mengidentifikasi

dan

menangani risiko dengan tujuan untuk

memaksimalkan penggunaan sumber

daya secara etis, efektif dan efisien

dalam upaya mencapai sasaran-sasaran

perusahaan Aspek-aspek yang perlu

dikembangkan dalam pengembangan SPI

pertama:

yang artinya auditor internal harus

bertanggung jawab langung kepada

reporting line

kepada komite audit dan bekerja sama

erat dengan komite manajemen risiko,

kedua:

kompenten dan profesional, artinya

seluruh anggota SPI harus memahami

dan menerapkan ketentuan dan standar

etika yang tertuang dalam internal audit

ketiga:Due Profesional

Care

bertanggung jawab dalam membantu

mencegah

terjadinya

penyimpangan

dengan mengevaluasi dan menguji

efektifitas sistem pengendalian internal

khususnya yang terkait dengan risiko-

risiko usaha.

Satuan Pengawasan Internal merupakan

mata

dan

telinga

pimpinan,

SPI

memberikan peranan penting untuk

memberikan

masukan

dalam

perencanaan

strategis

bisnis

dan

peringatan dini atas masalah yang akan

terjadi dan dihadapi oleh perusahaan.

Dalam perpektif GCG, Satuan Pengawas

Internal adalah organ pendukung yang

dibentuk oleh direksi. Peranan dan fungsi

SPI dalam suatu organisasi perusahaan

dapat pula digunakan sebagai parameter

dan indikator untuk mengukur penerapan

prinsip-prinsip GCG (Sidik Wiyoto, 2007).

Pendapat yang sama dikemukakan oleh

Forum for

Corporate Governance in Indonesia

yang menyatakan bahwa ada beberapa

bentuk implementasi GCG antara lain

Sistem Pengawasan Internal, pengelolaan

Lilis Puspitawati