< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 6 of 8
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.10, No. 2

268

H a l a m a n

dilakukan para anggota ? Berapa

banyak solusi yang dihasilkan dari

setiap aktivitas CoP ?.

d. Temukan berpa banyak aktivitas bisnis

yang menghasilkan pendapatan baru

karena berbagai ilmu dan pelajaran

yang diterima dari berbagai sumber

pengetahuan.

e. Seberapa mudah setiap orang dapat

mengakses informasi yang mereka

perlukan untuk bekerja ? jika

perusahaan mempunyai internet portal

sendiri, lakukan survei terhadap

berapa banyak orang yang mengakses

dan merasakn manfaat portal tersebut.

Berapa banyak data dari informasi

yang dapat ditemukan melalui fasilitas

pencarian (search) dalm internet

portal ?.

f. Mengukur statistik dari sistem KM

dalam

situs

internet

portal

perusahaan. Berapa banyak akses

pada situs ? Berapa banyak file

pengetahuan dan pengalaman para

praktisi oraganisasi yang di download ?

g. Seberapa mudah dan cepat orang

dapat menemukan informasi yang

mereka perlukan ? Ukur sebrapa

sering asset knowledge yang ada di

perbarui.

Dari sisi pandang yang lebih kritis lagi,

Birkinsaw (2001) bahkan mengidentifikasi

3 hal dalam manajemen pengetahuan

yang merupakan “kegiatan lama dalam

bungkus baru”yaitu:

1. Pengelolaan pengetahuan sudah

berlangsung sejak awal berdirinya

sebuah organisasi. Cara sebuah

organisasi menentukan struktur dan

hirarki anggota sudah merupakan

upaya mengelola pengetahuan dan

m e n e m p a t k a n

o r a n g - o r a n g

yangberpengetahuan sama di satu

tempat. Kelompok-kelompok informal

sudah sejak lama ada di berbagai

organisasi, dan menjadi tempat bagi

petukaran informasi dan pengetahuan

yang efektif, persoalannya sekarang

adalah mengidentifikasi hal-haL

tersebut dan membuatnya lebih efektif

lagi.

2. Manajemen pengetahuan merupakan

proses panjang dan lama, yang

mencakup perubahan perilaku semua

anggota sebuah organisasi. Upaya

mengubah peilaku ini bukanlah

kegiatan masa kini saja, persoalannya

sekarang adalah mensinkronkan upaya

perubahan ini dengan keseluruhan

strategi pelaksanaan organisasi.

3. Beb erapa

t ek nik

m anajem en

pengetahuan sudah dilakukan sejak

dulu, misalnya pengaktifan komunitas

praktisi sudah sejak lama menjadi

perhatian dari hubungan masyarakat

internal public relations),

pangkalan

data

pengetahuan

memperlihatkan cirri-ciri yang sama

dengan pangkalan data dalam sebuah

sistem informasi, persoalannya

sekarang adalah bagaimana teknik-

teknik manajemen pengetahuan ini

yang mirip dengan teknik-teknik

“tradisional” terus relevan dengan

perubahan organisasi.

4. Selain tiga hal diatas, Birkinsaw juga

menggarisbawahi tiga kenyataan yang

sangat mempengaruhi berhasil-

tidaknya manajemen pengetahuan.

Pertama, penerapannya tidak hanya

menghasilkan pengetahuan baru tetapi

juga mendaur-ulang pengetahuan yang

sudah ada.

5. Kedua, teknologi informasi belum

sepenuhnya bisa menggantikan fungsi

fungsi jaringan sosial antar anggota

organisasi. Ketiga, sebagian besar

organisasi tidak pernah tahu apa yang

sesungguhnya mereka ketahui, banyak

pengetahuan penting yang harus

ditemukan lewat upaya-upaya khusus,

padahal pengetahuan itu sudah

dimiliki sebuah organisasi sejak lama.

Lita Wulantika