< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 3 of 8
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.11 No. 1

105

H a l a m a n

terbiasa dalam menangani berbagai per-

bedaan pendapat dan konflik.

Hal ini memungkinkan mereka untuk

lebih dapat bekerja sama dalam

menghadapi berbagai macam isu yang

muncul dalam hubungan mereka di

masa depan. Individu akan memiliki ke-

percayaan yang lebih besar satu sama

lainnya ketika mereka mencoba menga-

tasi konflik yang terjadi. Hubungan juga

tidak akan mudah terancam dengan

adanya satu konflik yang muncul karena

masing-masing memiliki banyak cadan-

gan pengalaman yang dapat mereka

gunakan dalam mengatasi konflik.

Singkatnya, suatu hubungan sering

ditentukan oleh penilaian masing-masing

pihak dalam menentukan pengorbanan dan

penghargaan yang mereka peroleh. Jika

salah satu pihak merasa mendapatkan le-

bih banyak manfaat atau penghargaan

(positif) maka terdapat kemungkinan besar

hubungan itu akan berlanjut. Jika dirasakan

lebih banyak pengorbanan (negatif) yang

muncul maka besar kemungkinan hubun-

gan itu akan berakhir. Tetapi, harap diingat,

masing-masing pihak tidak selalu sama

dalam memandang suatu isu. Penghargaan

bagi satu pihak bisa jadi merupakan pen-

gorbanan bagi pihak lainnya.

ASUMSI DASAR TEORI

SPT sudah diterima secara luas me-

lalui oleh sejumlah ilmuan dalam disiplin

ilmu komunikasi. Sebagian alasan dari daya

tarik teori ini adalah pendekatannya yang

langsung pada perkembangan hubungan.

West & Turner (2011 : 197-199)

menyebutkan bahwa SPT dibangun di atas

sejumlah asumsi berikut:

1. Hubungan-hubungan mengalami kema-

juan dari tidak intim menjadi intim

Hubungan komunikasi antara orang

dimulai pada tahapan superfisial dan

bergerak pada sebuah kontinum menuju

tahapan yang lebih intim. Walaupun ti-

dak semua hubungan terletak pada titik

ekstrem, tidak intim maupun intim.

Bahkan banyak dari hubungan kini terle-

tak pada sutu titik di antara dua kutub

tersenut. Sering kali, kita mungkin

menginginkan kedekatan hubungan

yang moderat. Contohnya, kita mungkin

ingin agar hubungan dengan rekan kerja

kita cukup jauh sehingga kita tidak perlu

mengetahui apa yang terjadi di rumah-

nya setiap malam atau berapa banyak

uang yang ia miliki di bank. Akan tetapi,

kita perlu untuk mengetahui cukup infor-

masi personal untuk menilai apakah ia

mampu menyelesaikan tanggung jawab-

nya dalam sebuah proyek tim.

2. Secara umum, perkembangan hubungan

sistematis dan dapat diprediksi

Secara khusus para teoretikus penetrasi

sosial berpendapat bahwa hubungan-

hubungan berkembang secara sistema-

tis dan dapat diprediksi. Beberapa orang

mungkin memiliki kesulitan untuk mene-

rima klaim ini. Hubungan – seperti

proses komunikasi – bersifat dinamis

dan terus berubah, tetapi bahkan se-

buah hubungan yang dinamis mengikuti

standar dan pola perkembangan yang

dapat diterima. Meskipun kita mungkin

tidak mengetahui secara pasti mengenai

arah dari sebuah hubungan atau dapat

menduga secara pasti masa depannya,

proses penetrasi sosial cukup teratur

dan dapat diduga. Tentu saja, sejumlah

peristiwa dan variabel lain (waktu, kepri-

badian dan sebagainya) memengaruhi

cara perkembangan hubungan dan apa

yang kita prediksikan dalam proses

tersebut. Sebagaimana disimpulkan oleh

Altman & Taylor (1973), “orang tam-

paknya memiliki mekanisme penye-

suaian yang sensitif yang membuat

mereka mampu untuk memprogram se-

cara hati-hati hubungan interpersonal

mereka”.

3. Perkembangan hubungan mencakup

depenetrasi (penarikan diri) dan disolusi

Mulanya, kedua hal ini mungkin terden-

gar aneh. Sejauh ini kita telah memba-

has titik temu dari sebuah hubungan.

Tine Agustin Wulandari, S.I.Kom