< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 7 of 8
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.11 No. 1

109

H a l a m a n

Tine Agustin Wulandari, S.I.Kom

merujuk kepada berbagai topik yang

didiskusikan dalam suatu hubungan.

(religious

convictions)

(worldview).(breadth

time)

yang dihabiskan oleh pasangan dalam

berkomunikasi satu sama lainnya

mengenai

berbagai

macam

topik

tersebut.

Depth

Selanjutnya ada lapisan kedalaman

(depth)

yang mengarahkan diskusi mengenai

suatu topik, diantaranya ketakutan dan

(deeply held fears and

fantasies)(dating)

(concept of self).

awal, hubungan dapat dikatakan mempu

-nyai keluasan yang sempit dan

kedalaman

yang

dangkal.

Begitu

hubungan bergerak menuju kein-timan,

kita dapat mengharapkan lebih luasnya

topik yang didiskusikan dan beberapa

topik juga mulai lebih mendalam.

Terkait dengan masalah keluasan

(breadth)(depth),

Morrisan

(2010,

187-188)

terdapat

beberapa

hal

penting

yang

perlu

diperhatikan:

1. Pergantian atau perubahan yang terjadi

pada lapisan dalam memberikan efek

lebih besar dibandingkan perubahan

yang terjadi pada lapisan luar. Karena

gambaran publik terhadap diri individu,

atau lapisan luar, menunjukkan hal-hal

yang dapat dilihat orang lain secara

(superficial)

perubahan pada lapisan luar, kita dapat

berharap konsekuensi atau efek yang

dihasilkannya minimal.

2. Semakin dalam hubungan yang terjadi

maka semakin besar peluang seseorang

untuk merasa tidak berdaya dan lemah

(vulnerable).

Harap diingat bahwa individu harus

bersikap cermat dan menggunakan akal

sehat ketika membuka dirinya. Walaupun

keter-bukaan diri pada umumnya akan

membuat hubungan antar individu semakin

dekat, namun jika orang terlalu berlebihan

mengungkapkan dirinya pada tahap awal

hubungannya dengan seseorang maka

hubungan tersebut akan berakhir dengan

lebih cepat. Hal ini disebabkan pihak

lainnya merasa belum siap untuk menerima

keterbukaan yang demikian besar. Dengan

kata lain, klaim yang mengatakan bahwa

keterbukaan akan menghasilkan efek positif

terhadap hubungan tidaklah selalu benar.

Selain itu, faktor kepercayaan memainkan

peran penting dalam mendorong proses

keterbukaan dari resiprositas.

Menurut Mark Knapp Anita Vangelisti

dalam Morissan (2010 : 188), keterbukaan

untuk mengungkapan infomrasi yang

bersifat intim harus didasarkan atas

kepercayaan. Menurut mereka, jika kita

menginginkan resiprositas dalam hal

keterbukaan maka kita harus mencoba

untuk memperoleh kepercayaan dari orang

lain dan sebaliknya kita juga harus percaya

dengan orang lain.

SPT

berperan

penting

dalam

memusatkan

perhatian

kita

pada

perkembangan

hubungan.

Namun

demikian, teori ini tidak dapat memberikan

penjelasan yang memuaskan terhadap

praktik hubungan yang sebenarnya dalam

kehidupan aktual sehari-hari. Gagasan yang

menyatakan bahwa interaksi bergerak

meningkat mulai dari tahap permukaan

hingga tahap intim dalam suatu garis lurus

(linear fashion)

terlalu

sederhana.

Kita

tahu

dari

pengalaman bahwa hubungan berkembang

dalam berbagai cara, seringkali hubungan

bergerak secara timbal balik dari terbuka

kepada tertutup dan sebaliknya.

Dalam tulisan mereka selanjut-nya,

Altman & Taylor mengakui keterbatasan ini

dan melakukan revisi terhadap SPT awal

dengan memberikan gagasan yang lebih

kompleks

terhadap

perkembangan

hubungan.