< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9

Page 3 of 9
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.11 No. 2

304

H a l a m a n

itu dipandang dari segi budaya yang

diyakininya.

Dalam ilmu linguistik, leksikon

merupakan

struktur

gramatikal

yang

memiliki sejumlah informasi (baca pula

gagasan) yang dikenal sebagai struktur

semantis. Struktur semantis ini lah yang

pada akhirnya menentukan alternatif

makna yang dimiliki leksikon tersebut.

Larson (1984: 28-29) menjelaskan bahwa

jika tidak terjadi penyimpangan antara

struktur gramatikal dan struktur semantis,

leksikon merupakan konsep yang dibangun

meaning

propertiesgirl

misalnya, merupakan konsep manusia

dengan komponen makna [HUMAN BEING],

[YOUNG] dan [FEMALE]. Gagasan yang sama

juga dimiliki bahasa Indonesia. Akan tetapi,

bahasa Indonesia memiliki caranya sendiri

dalam mengemas gagasan tersebut dalam

struktur gramatikalnya. Bahasa Indonesia

anak perempuan

menyatakannya; komponen makna leksikon

anak

sedangkan komponen makna leksikon

perempuan

demikian, pencarian padanan leksikon yang

benar-benar sama sangat lah sulit, jika tidak

dapat dikatakan tidak mungkin.

Pengungkapan

kembali

konsep

bahasa Inggris menjadi semakin menarik

ketika dihadapkan dengan konsep yang

tidak dikenal dalam bahasa Indonesia.

Fakta ini mengarahkan pada suatu

the impact may be

reasonably close to the original but no

identity in detail

126). Konsep yang tidak dikenal dalam

bahasa

Indonesia,

misalnya

leksikon

dungeon

[RUANGAN], [BAWAH TANAH], [GELAP],

[DIGUNAKAN

SEBAGAI

TEMPAT

MENGASINGKAN ORANG LAIN], [MEMILIKI

BANYAK JALAN BERKELOK], [TERDIRI DARI

RUANGAN-RUANGAN], dan [ADAPTASI DARI

GAGASAN

SIR

PATRICK

1844-1922],

dipadankan

dengan

padanan

yang

mengeksplisitkan komponen makna generik

[RUANGAN] yang dimodifikasi tempat

keberadaan ruangan [BAWAH TANAH],

dungeon

ruangan bawah

tanah

ruangan

bawah

tanah

tidak

mengisyaratkan

keberadaan komponen makna [DIGUNAKAN

SEBAGAI TEMPAT MENGASINGKAN ORANG

LAIN],

[MEMILIKI

BANYAK

JALAN

BERKELOK], [TERDIRI DARI RUANGAN-

RUANGAN], dan [ADAPTASI DARI GAGASAN

SIR PATRICK 1844-1922] meski komponen

makna [GELAP] dapat diperkirakan. Hal ini

lah yang dimaksudkan dengan leksikon

mengandung gagasan dan makna yang

berbeda; bergantung pada pengalaman dan

budaya

yang

dimiliki

masing-masing

bahasa. Akibatnya, padanan yang dihasilkan

merupakan padanan yang mendekati

gagasan atau konsep tersebut.

Sebagaimana yang telah disebutkan,

struktur

semantis

tidak

selalu

berkonfigurasi dengan struktur gramatikal;

artinya leksikon tidak selalu memiliki

struktur semantis berupa konsep. Leksikon

chosenthe chosen

misalnya, merupakan leksikon dengan

struktur

semantis

berupa

proposisi

kejadian,

[THOSE

WHOM

SOMEONE

CHOSE]. Padanan bahasa Indonesia yang

mungkin diberikan untuk leksikon tersebut

orang pilihan

Simpulannya, leksikon sepatutnya

dilihat sebagai suatu kumpulan gagasan

yang terdiri dari komponen makna yang

membangun struktur semantis. Komponen

makna yang berupa informasi yang ingin

disampaikan merupakan informasi yang

bukan hanya merujuk kepada acuan

tertentu di dunia nyata, tetapi juga informasi

yang merupakan refleksi dari pengalaman

dan

budaya

penuturnya.

Karena

pengalaman dan budaya setiap bahasa

berbeda, jumlah informasi yang dikemas

dalam struktur gramatikal yang berupa

leksikon pun berbeda dalam setiap bahasa.

Retno Purwani Sari

,

Tatan Tawami