< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14Page 15Page 16Page 17Page 18Page 19Page 20Page 21Page 22Page 23Page 24Page 25Page 26Page 27Page 28

Page 6 of 28
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.11 No. 2

239

H a l a m a n

sebagai

pedoman

partai.

Ideologi

merupakan doktrin yang bersifat mengikat

terhadap tujuan dan cita-cita partai. Sebagai

tindak lanjut dari semua tujuan dan cita-cita

itu diformulasikan dalam bentuk suatu

platform

Definisi

lain

yang

ditemukan

mengenai partai politik terdapat dalam

Undang-undang Nomor 31 Tahun 2002

Pasal 1 ayat (1), yang menyebutkan partai

politik adalah Organisasi yang dibentuk oleh

sekelompok

warga

negara

republik

Indonesia secara sukarela atas dasar

persamaan kehendak dan cita-cita untuk

memperjuangkan kepentingan anggota,

masyarakat, bangsa dan negara melalui

pemilihan umum.

Indonesia merupakan negara penganut

sistem demokrasi, dimana rakyat dengan

bebas mendirikan partai sesuai dengan

peraturan perundang-undangan yang ber-

laku. Partai politik dibentuk secara sukarela

atas dasar persamaan kehendak dan cita-

cita, yang kemudian dalam deklarasi berdir-

inya partai diatur dalam perundang-

undangan melalui akta notaris. Dalam hal

ini partai yang bersangkutan didaftarkan

kepada departemen kehakiman, dan untuk

selanjutnya dicatat keberadaannya sebagai

institusi politik yang sah. Maka, dengan

adanya suatu anggapan bahwa rakyat meru-

pakan faktor penting yang perlu diperhati-

kan, serta diikutsertakan dalam segenap

proses politik dimanapun keberadaannya

sebagai wujud dari rakyat yang patuh

kepada negara.

Tipologi Partai Politik

Menurut pendapat Ramlan Surbakti

Memahami Ilmu

Politik,

dalam tiga tipe. Adapun tipologi partai

politik sebagai berikut:

1. Asas dan orientasi.

Berdasarkan asas dan orientasinya,

partai politik diklasifikasikan menjadi

tiga tipe, yaitu:

a. Partai politik pragmatis. Suatu partai

yang mempunyai program dan

kegiatan yang tak terkait kaku pada

suatu doktrin dan ideologi tertentu.

Artinya, perubahan waktu, situasi dan

kepemimpinan

akan

mengubah

program, kegiatan, dan penampilan

partai politik tersebut.

b. Partai politik doktriner. Suatu

partai politik yang memiliki

sejumlah program dan kegiatan

konkret

sebagai

penjabaran

ideologi. Artinya, ideologi disini

adalah sebagai perangkat nilai

politik yang dirumuskan secara

konkret dan sistematis dalam

bentuk

program-program

kegiatan yang pelaksanaannya

diawasi secara ketat oleh aparat

partai.

c. Partai politik kepentingan. Suatu

partai politik yang dibentuk dan

dikelola atas dasar kepentingan

tertentu seperti petani, buruh,

etnis, agama atau lingkungan

hidup secara langsung ingin

berpartisipasi

dalam

pemerintahan.

Tipologi partai diarahkan untuk

membedakan ciri partai satu dengan

partai lainnya. Seperti halnya partai

pragmatis, biasanya cenderung pemimpin

utamanya dan gaya kepemimpinan sang

pemimpin

diutamakan.

Partai

ini

terorganisasikan agak longgar, dan hal ini

bukan berarti partai ini tidak memiliki

ideologi sebagai identitasnya. Partai

pragmatis dapat dengan mudah diketahui

cirinya dari segi gaya kepemimpinan dari

pemimpin partai tersebut. Berbeda

dengan partai doktriner dimana sejumlah

platform

dijabarkan dalam ideologi. Sedangkan

partai kepentingan hanya mewakili dari

sebagian kepentingan kelompok tertentu

saja.

2. Komposisi dan fungsi anggota.

Menurut

komposisi

dan

fungsi

anggotanya,

partai

politik

dapat

digolongkan menjadi dua tipe (Surbakti,

1992:122), yaitu:

patronase

Dewi Kurniasih, Tatik Rohmawati.