< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13

Page 3 of 13
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.12 No. 1

111

H a l a m a n

Cikapundung

adalah

pengembangan

bantaran Sungai Cikapundung. Kawasan

bantaran sungai (sempadan sungai) akan

dijadikan sebagai Ruang Terbuka Hijau

(RTH) yaitu sebagai ruang publik termasuk

sempadan sungai di Kelurahan Tamansari

yang berada pada segmen 3 yang

Kelurahan Tamansari yang termasuk dalam

zona pengembangan segmen 3, yang

lingkup wilayahnya mencakup Cihampelas

Bawah – Wastu Kencana memiliki

karakteritik sebagai berikut :

 Dekat dengan pusat kegiatan perkotaan

dan perdagangan (perbelanjaan Balubur)

 Dekat dengan kegiatan pendidikan

 Dilalui oleh jalan layang Pasupati

 Berkembangnya permukiman padat

penduduk (Kelurahan Tamansari)

 Berkembnagnya kegiatan komersial

khusus, yaitu pusat penjualan bunga

Wastu Kencana.

Pengendalian kawasan sempadan Sungai

Cikapundung yang akan dilakukan termasuk

zona segmem 3 dalam memperbaiki

lingkungan

di

sempadan

Sungai

Cikapundung yaitu daerah sempadan

Sungai Cikapundung akan dijadikan sebagai

RTH publik.

Program Gerakan Cikapundung Bersih

(GCB)

Sebagai upaya untuk memperbaiki sungai

Cikapundung dan kawasan sekitarnya sejak

tahun 2004 bulan februari pemerintah

Kota Bandung mencanangkan program GCB

merupakan acara tahunan atau diadakan

setiap satu tahun satu kali. Gerakan

Cikapundung Bersih (GCB) yang mencakup

tujuh tahapan secara berturut-turut antara

lain :

 Bakti sosial

 Pengerukan sedimen

 Normalisasi sungai

 Inventarisasi bangunan di bantaran

sungai serta perubahan tata letak

bangunan yang semula membelakangi

menjadi menghadap sungai

 Penataan sempadan sungai

 Pembangunan bangunan air dan

 Penghijauan

Pemerintah Kota Bandung dalam hal ini

menjalin kerjasama dengan pihak swasta

maupun masyarakat. Pihak swasta didorong

untuk terlibat secara aktif, untuk mengolah

limbah maupun berpartisipasi aktif dalam

Gerakan Cikapundung Bersih. Sedangkan

masyarakat difasilitasi untuk terus bergerak

membersihkan sungai secara berkala,

menanam pohon di bantaran sungai,

peningkatan peran untuk menjaga warga

lainnya agar tidak membuang sampah ke

sungai, serta menjadikan sungai ini menjadi

pusat kegiatan olah raga, hiburan, seni

budaya, dan kegiatan lainnya yang produktif

dan pro-lingkungan (Pemerintah Kota

Bandung, 2011).

Sanksi Membuang Sampah Ke Sungai

Cikapundung

Pemerintah Kota Bandung mulai tanggal 19

Juni 2011 menerapkan sanksi hukum bagi

masyarakat ataupun perusahaan yang

membuang kotoran ke Sungai Cikapundung.

Bagi masyarakat yang ketahuan membuang

sampah, limbah dan kotoran lainnya ke

Sungai Cikapundung akan dikenai sanksi

denda sebesar Rp 5.000.000 (Pikiran

Rakyat, 2011). Hal ini merupakan komitmen

pemerintah

Kota

Bandung

untuk

memperlakukan dan menjaga Sungai

Cikapundung serta menjaga kebersihan dan

kelestariannya.

Sanksi

tersebut

sebenarnya

sudah

ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kota

Bandung Nomor 11 Tahun 2005 tentang

Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan

Dan Keindahan yaitu membuang air besar

atau kecil dan memasukan kotoran lainnya

pada sumber mata air, kolam air minum,

sungai dan sumber air bersih lainnya

dikenakan pembebanan biaya paksaan

penegakan hukum sebesar Rp.

5.000.000,00 (lima juta rupiah), atau

Saona Angkotasan, Lia Warlina