< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 2 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.13 No. 2

212

H a l a m a n

tumbuh di banyak masyarakat. Aspek sosial

tersebut harus juga dipertimbangkan dalam

pengukuran ketahanan pangan.

Di Jawa Barat berdasarkan hasil pemetaan

kerawanan pangan, walaupun secara umum

tergolong tahan dan sangat tahan pangan,

namun masih terdapat sekitar 20%

kecamatan diantaranya masuk katagori

cukup rawan pangan dan sangat rawan

pangan. Upaya penanganan kerawanan

pangan menjadi fokus dalam pembangunan

ketahanan pangan (BKPD Prov.Jabar,

2014). Untuk tingkat desa, dari sekitar 5

ribuan lebih ternyata 2000an desa saat ini

berada dalam status rawan pangan (Diah.R,

2013). Permasalahannya tidak muncul dari

ketersediaan pangan, karena setelah

dianalisis berdasarkan produksi padi,

jagung, ubi kayu dan ubi jalar tahun 2011

sebagai pangan pokok sumber energi, Jawa

Barat telah mampu menyediakan pangan

untuk dikonsumsi bagi 43.826.775 orang

penduduknya sebesar 491 gram per orang

per hari, melebihi konsumsi normatif per

orang per hari yaitu 300 gram (BPS Provinsi

Jawa Barat, 2012).

Menggali nilai-nilai kearifan lokal dan dibuat

dalam indikator-indikator yang terukur se-

hingga dapat diperhitungkan dalam pen-

gukuran ketahanan pangan suatu wilayah

merupakan kajian yang akan diangkat da-

lam penelitian ini. Kecamatan Cisolok Kabu-

paten Sukabumi dan Kecamatan Salawu

Kabupaten Tasikmalaya dipilih sebagai wila-

yah penelitian dengan pertimbangan kebu-

tuhan studi untuk menerapkan metode pen-

gukuran ketahanan pangan dengan mem-

perhitungkan aspek kearifan lokal. Pada

kedua Kecamatan tersebut masing-masing

di salah satu Desanya, terdapat kelompok

masyarakat yang nilai-nilai kearifan lokalnya

masih kental yaitu Kasepuhan Ciptagelar di

Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok dan

Kampung Naga di Desa Neglasari Kecama-

tan Salawu.

Tujuan Penelitian

a. Membuat model persamaan pemetaan

ketahanan pangan di Kecamatan Cisolok

Kabupaten Sukabumi dan Kecamatan

Salawu Kabupaten Tasikmalaya dengan

memperhitungkan kearifan lokal.

b. Membandingkan

apakah

metode

pengukuran ketahanan pangan wilayah

yang memperhitungkan aspek kearifan

lokal memberikan gambaran ketahanan

pangan yang lebih baik dibandingkan

dengan tanpa memperhitungkan aspek

kearifan lokal di desa-desa di Kecamatan

Cisolok

Kabupaten

Sukabumi

dan

Kecamatan

Salawu

Kabupaten

Tasikmalaya dan menganalisis implikasi

kebijakannya.

METODE

Jenis rancangan penelitian yang digunakan

adalah

penelitian

deskriptif-

analitis.

Variabel-variabel

yang

dikaji

untuk

menentukan Indeks Komposit Ketahanan

Pangan adalah indikator-indikator dari

aspek ketersediaan pangan, akses pangan,

pemanfaatan pangan, pengetahuan lokal,

keterampilal lokla dan proses sosial lokla.

Operasionalisasi masing-masing variabel

dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.

.

Tuti Gantini