< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14

Page 5 of 14
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.14 No. 1

19

H a l a m a n

investasi abadi) adalah penjualan logam

mulia

oleh

pegadaian

kepada

masyarakat secara tunai, dan agunan

dengan jangka waktu fleksibel.

3. Penaksirannilai barang Jasa ini diberikan

bagi

mereka

yang

menginginkan

informasi tentang taksiran barang yang

berupa emas, perak dan berlian. Biaya

yang

dikenakan

adalah

ongkos

penaksiran barang.

4. Penitipan barang (ijaroh)

5. Barang yang dapat dititipkan antara lain :

sertifikat motor, tanah, ijazah. Pegadaian

akan mengenakan biaya penitipan bagi

nasabahnya Ar-Ruum atau gadai untuk

pembiayaan usaha kelompok mikro kecil

dan menengah (UMKM).

Dari uraian ini dapat dicermati perbedaan

yang cukup mendasar dari teknik transaksi

Pegadaian Syariah dibandingkan dengan

Pegadaian konvensional, yaitu :

1. Di Pegadaian konvensional, tambahan

yang harus dibayar oleh nasabah yang

disebut sebagai sewa modal, dihitung

dari nilai pinjaman.

2. Pegadaian

konvensional

hanya

melakukan satu akad perjanjian : hutang

piutang dengan jaminan barang bergerak

yang jika ditinjau dari aspek hukum

konvensional,

keberadaan

barang

acessoir

sehingga Pegadaian konvensional bisa

tidak melakukan penahanan barang

jaminan

atau

dengan

kata

lain

melakukan praktik fidusia. Berbeda

dengan

Pegadaian

syariah

yang

mensyaratkan

secara

mutlak

keberadaan barang jaminan untuk

membenarkan penarikan bea jasa

simpan.

c. Pasar Modal Syariah

Pasar Modal Syariah dapat diartikan

sebagai pasar modal yang menerapkan

prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan

transaksi ekonomi dan terlepas dari hal-hal

yang dilarang seperti: riba, perjudian,

spekulasi dan lain-lain.

Produk-produk pasar modal syariah antara

lain :

1. Saham Syariah

Saham merupakan surat berharga yang

merepresentasikan penyertaan modal

kedalam suatu perusahaan. Sementara

dalam prinsip syariah, penyertaan modal

dilakukan pada perusahaan-perusahaan

yang tidak melanggar prinsip-prinsip

syariah, seperti bidang perjudian, riba,

memproduksi barang yang diharamkan

seperti bir, dan lain-lain.

Di Indonesia, prinsip-prinsip penyertaan

modal secara syariah tidak diwujudkan

dalam bentuk saham syariah maupun

non-syariah,

melainkan

berupa

pembentukan indeks saham yang

memenuhi prinsip-prinisp syariah. Dalam

hal ini, di Bursa Efek Indonesia terdapat

Jakarta Islamic Indeks (JII) yang

merupakan 30 saham yang memenuhi

kriteria syariah yang ditetapkan Dewan

Syariah Nasional (DSN). Indeks JII

dipersiapkan oleh PT Bursa Efek

Indonesia (BEI) bersama dengan PT

Danareksa

Invesment

Management

(DIM).

Jakarta Islamic Index dimaksudkan

untuk digunakan sebagai tolak ukur

benchmark

suatu investasi pada saham dengan

basis

syariah.

Melalui

index

ini

diharapkan

dapat

meningkatkan

kepercayaan

investor

untuk

mengembangkan investasi dalam modal

secara syariah. Jakarta Islamic Index

terdiri dari 30 jenis saham yang dipilih

dari saham-saham yang sesuai dengan

Syariah

Islam.

Penentuan

kriteria

pemilihan saham dalam Jakarta Islamic

Index

melibatkan

pihak

Dewan

Pengawas

Syariah

PT

Danareksa

Invesment Management.

Saham-saham yang masuk dalam Indeks

Sri Dewi Anggadini