< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14

Page 9 of 14
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.14 No. 1

23

H a l a m a n

bank syariah, tingkat balas jasa terukur

oleh sistem bagi hasil dari usaha. Selain

itu, persyaratan pengajuan kredit pada

perbankan syariah lebih ketat dari

perbankan konvensional sehingga risiko

kredit dari perbankan syariah lebih kecil

dari perbankan konvensional.

Oleh sebab itu pada sisi kredit, dalam

aturan syariah, bank bertindak sebagai

penjual, sementara nasabah sebagai

pembeli murabahah.Dengan demikian

debitor yang dinilai tidak cacat hukum

dan kegiatan usahanya berjalan baik

akan mendapat prioritas. Oleh sebab itu,

risiko bank syariah sebetulnya lebih kecil

dibanding bank konvensional. Bank

syariah tidak akan mengalami negative

spread,

karena

dari

dana

yang

dikucurkan untuk pembiayaan akan

diperoleh pendapatan, bukan bunga

seperti di bank biasa.

2. Risiko Pasar

Risiko yang timbul karena adanya

pergerakan variabel pasar dari portofolio

yang dimiliki oleh bank, yang dapat

merugikan bank. Variabel pasar antara

lain adalah suku bunga dan nilai tukar.

Pada perbankan syariah tidak terdapat

risiko pasar dikarenakan perbankan

syariah

tidak

melandaskan

operasionalnya berdasar risiko pasar.

3. Risiko Likuiditas

Risiko antara lain disebabkan bank tidak

mampu memenuhi kewajiban yang telah

jatuh tempo. Bank memiliki dua sumber

utama bagi likuiditasnya, yaitu aset dan

liabilitas.Apabila bank menahan aset

seperti surat-surat berharga yang dapat

dijual untuk memenuhi kebutuhan

dananya, maka resiko likuiditasnya bisa

lebih rendah. Sementara menahan aset

dalam bentuk surat- surat berharga

membatasi pendapatan, karena tidak

dapat memperoleh tingkat penghasilan

yang lebih tinggi dibandingkan

pembiayaan.

Faktor kuncinya adalah bank tidak dapat

leluasa memaksimumkan pendapatan

karena adanya desakan kebutuhan

likuiditas.Oleh karena itu bank harus

memperhatikan jumlah likuiditas yang

tepat. Terlalu banyak likuiditas akan

mengorbankan tingkat pendapatan dan

terlalu sedikit akan berpotensi untuk

meminjam dana dengan harga yang

tidak dapat diketahui sebelumnya, yang

akan berakibat meningkatnya biaya dan

akhirnya menurunkan profitabilitas.

Pada bank syariah, dana nasabah

dikelola dalam bentuk titipan maupun

investasi. Cara titipan dan investasi jelas

berbeda dengan deposito pada bank

konvensional

dimana

deposito

merupakan upaya mem-bungakan uang.

Konsep dana titipan berarti kapan saja si

nasabah membutuhkan, maka bank

syariah harus dapat memenuhinya,

akibatnya dana titipan menjadi sangat

likuid. Likuiditas yang tinggi inilah

membuat dana titipan kurang memenuhi

s y a r a t

s ua t u

i n v e s t a s i

y a ng

membutuhkan pengendapan dana.

Karena pengendapan dananya tidak

lama alias cuma titipan maka bank boleh

saja tidak memberikan imbal hasil.

Sedangkan jika dana nasabah tersebut

diinvestasikan, maka karena konsep

investasi

adalah

usaha

yang

menanggung risiko, artinya setiap

kesempatan untuk memperoleh

keuntungan

dari

usaha

yang

dilaksanakan, di dalamnya terdapat pula

risiko untuk menerima kerugian, maka

antara nasabah dan banknya sama-

sama saling berbagi baik keuntungan

maupun risiko.

operational risk

Menurut definisi Basle Committe, resiko

operasional adalah resiko akibat dari

kurangnya sistem informasi atau sistem

pengawasan

internal

yang

akan

menghasilkan kerugian yang tidak

diharapkan. Resiko ini lebih dekat

Sri Dewi Anggadini