< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12

Page 10 of 12
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.14 No. 1

38

H a l a m a n

Wanita itu mencibir.” Tak ada aktor di sini,

ini tempat terhormat. Hanya samurai.”

(Tokaido Inn : 159-160)

Seikei terbelalak. “Tak mungkin, setiap

orang tahu samurai dilarang menonton ka-

buki.”

Kazuo mengangkat bahu. “Samurai sering

datang pada pementasan kami, mereka

menyamar menjadi orang kebanyakan.”

Seikei memeriksa keadaan sekitar, ia

melihat tak ada tempat duduk untuk

menyaksikan pentas. “Dimana tamu daimyo

itu akan duduk?” tanyanya. Tomomi menun-

juk ke layar bambu tinggi yang mengelilingi

dinding ruangan itu. “Dibalik itu,” katanya.

“Daimyo dan para tamu terlalu tinggi dera-

jatnya hingga mereka tidak boleh langsung

terlihat oleh aktor. Akan mencoreng nama

baik shogun jika harus muncul ketika

menonton penampilan kita.”

(Tokaido Inn: 315)

Sejak pemerintahan Shogun ke-3 Tokuga-

wa Iemitsu (1623-1651), stratifikasi sosial

semakin ketat dan diskriminasi antar kelas

semakin jelas melalui ketetapan yang

mengatur perbedaan penampilan berpaka-

ian, tutur bahasa, etika, dan tata rambut

serta pemakaian jenis pedang bagi samurai.

Khususnya mengenai penampilan dan tata

Tokaido Inn

direpresentasikan seperti dalam kutipan

berikut :

Bunzo adalah samurai berkumis yang ga-

gah. Seperti kebanyakan samurai, ia me-

melihara botak diatas keningnya, lengkap

dengan rambut yang terikat di atasnya, ter-

gulung kuat. Pakaian pria itu bersih dan

ketat.

Dalam stratifikasi sosial masyarakat di za-

(nomin)

bushi

ditempatkan langsung dibawah golongan

samurai karena petani dianggap sebagai

golongan yang produktif. Mereka bekerja

keras sepanjang tahun untuk menghasilkan

sesuatu untuk dikonsumsi (beras) dan

bahkan menjadi sumber pendapatan (pajak)

bagi penguasa dari beras dan komoditi

lainnya yang serahkan oleh kaum petani

tersebut. Namun, sumbangsih golongan

(kosakunin)

dari petani, karena mereka dianggap hanya

menghasilkan barang-barang kebutuhan

sehari-hari saja, karenanya golongan ini

ditempatkan dibawah golongan petani. Se-

(chonin)

dengan harta benda melimpah dan hidup

nyaman, namun apa yang dilakukan golon-

gan pedagang dianggap lebih rendah dari

golongan pengrajin karena bagi samurai

pedagang hidup hanya dari keuntungan

yang diperoleh sebagai hasil dari menjual

barang yang diproduksi oleh orang lain, ka-

renanya golongan pedagang berstatus so-

sial lebih rendah dibawah golongan pengraj-

To-

kaido Inn

kutipan-kutipan berikut :

“Kau memakai pakaian halus. Itu baju yang

biasa dipakai saudagar. Mereka kaya kare-

na menjual dengan harga tinggi, menipu

orang-orang.” Seikei mengangkat wajahnya.

Karena itulah mereka meremahkan

saudagar. Mereka tidak menanam ma-

kanan seperti petani, atau membuat sesua-

tu seperti Michiko dan ayahnya. Mereka

hanya menjual barang.

(Tokaido Inn : 107)

“Kenapa anak seorang daimyo bisa.…”

Seikei mulai bicara tapi Kazuo memo-

tongnya.

Kazuo mengangguk. “Jangan khawatir. Aku

tahun apa yang kau pikirkan. Apa yang dia

lakukan di rombongan aktor kabuki? Setiap

orang memandang rendah aktor, benar

kan?”

Seikei menggelengkan kepala. “Aku anak

seorang saudagar, dan setiap orang me-

Fenny Febrianty