< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12

Page 3 of 12
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.14 No. 1

31

H a l a m a n

antar bangsawan yang diperparah

melemahnya kendali di provinsi-provinsi

kokushi

selevel gubernur) dari golongan bangsawan

terlena dalam kemewahan hidup di ibuko-

Taiho

Ritsuryo

sebagian besar penduduk hidup dalam

kemiskinan yang berakibat pada tingginya

tindak kriminal seperti penjarahan, per-

ampokan bahkan pembunuhan di wilayah-

wilayah provinsi. Oleh sebab itu, untuk men-

jaga keamanan lahan-lahan pertanian serta

wilayah kekuasaan masing-masing, banyak

kokushi

gunshi

wab terhadap desa-desa tani ataupun tuan-

tuan tanah harus mempersenjatai sendiri

anggota keluarga dan petani penggarapnya

dengan busur panah dan pedang. Seiring

waktu, orang-orang bersenjata ini menjadi

serdadu terlatih. Merekalah yang kemudian

menjadi cikal bakal samurai. Pada akhirnya

di daerah-daerah terbentuk kelompok-

kelompok militer kuat, dan yang paling ber-

pengaruh adalah dua klan samurai yaitu

Minamoto (Genji) di Jepang Timur dan klan

Taira (Heiji) di Jepang Barat sebagai pence-

tus lahirnya kekuasaan kaum samurai.

Kaum samurai menguasai Jepang selama

ratusan tahun yaitu dari zaman Kamakura

(1192) hingga akhir zaman Edo (1867). Se-

jak zaman Kamukara Jepang memasuki

zaman feodal dimana kekuasaan politik

dikendalikan oleh penglima besar samurai

yang disebut Shogun., sementara Kaisar

hanyalah sebagai pemegang kekuasaan

simbolis saja. Shogun mendirikan

bakufu

atau keshogunan. Keshogunan sebagai ko-

mando militer tertinggi membawahi para

daimyo, yaitu jendral-jendral militer feodal

pemimpin klan samurai di provinsi-provinsi.

Para daimyo ini memiliki pasukan militer

yang juga adalah kaum samurai.

Konsep samurai sebagai kaum ksatria men-

jadikan samurai memiliki peran penting dan

kedudukan tersendiri yang berbeda dengan

prajurit biasa dalam sejarah Jepang. Mereka

adalah ksatria terlatih dengan kemampuan

bela diri yang tinggi, memiliki keberanian

dalam bertempur, tetapi juga kesetiaan

pribadi pada orang-orang yang dianggap

atasan (Beasley, 2003:79). Prinsip, cara

hidup, dan perilaku samurai dikenal dengan

bushido

lis yang berisi dasar nilai-nilai moral dan

bushido

berasal dari empat pemikiran, yaitu Zen

Buddhisme, Shintoisme, dan Konfusianisme

yang mengajarkan penghargaan terhadap

kehidupan dan kematian yang mencakup

nilai-nilai kesetiaan, keteladanan, keberani-

an, keadilan, kedisiplinan, dan harga diri.

World HistoryThe Rise of Samurai

(2010:18) disebutkan bahwa dalam seman-

bushido

menjadi ksatria yang hebat sekaligus pecin-

bu

bun

intelektual dan spiritual). Jalan hidup ini

tidak hanya diterima sebagai keyakinan,

tetapi juga kebudayaan yang menjadi identi-

tas samurai.

Masih dalam sumber yang sama, lebih

lanjut dijelaskan bahwa sebelum menang

dalam pertempuran, seorang samurai harus

mampu menaklukkan diri sendiri. Harga diri

bernilai sama dengan sebuah kehidupan

bagi seorang samurai. Kalah dalam perang

adalah salah satu hal yang membuat harga

diri seorang samurai turun, dan mereka ha-

rus menanggung malu karena itu. Tindakan

menyerah kepada lawan bukanlah hal yang

tepat karena itu justru dianggap sebagai

‘dosa yang tak termaafkan’, sementara

samurai yang melakukannya harus dibuang

dari klan dan tidak mendapat tempat dalam

masyarakat. Dalam kondisi seperti ini,

bahkan bunuh diri dianggap lebih baik dari

pada menyerah kepada musuh. Prosesi

bunuh diri seorang samurai dikenal sebagai

seppuku.

Seppukuharakiri

( m e n u s u k

d a n

m e r o b e k

p e r u t

sebagai tindakan mulia untuk melindungi

kehormatan ketika malu karena gagal

Fenny Febrianty