< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 3 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.15 No. 1

5

H a l a m a n

Menurut UU Perdata pasal 1150, gadai ada-

lah suatu hak yang diperoleh seseorang

yang mempunyai piutang atas suatu barang

bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh

seorang yang berhutang atau oleh seorang

lain atas dirinya, dan yang memberikan

kekuasaan kepada orang yang berpiutang

itu untuk mengambil pelunasan dari barang

tersebut secara didahulukan daripada orang

yang berpiutang lainnya, dengan pengecua-

lian biaya yang telah dikeluarkan untuk me-

nyelamatkannya setelah barang itu diga-

daikan, biaya-biaya mana harus dida-

hulukan.

A. Dalil-Dalil Seputar Gadai Syariah

1. Dalil kebolehan gadai, seperti yang ter-

cantum dalam Surat Al Qur’an Surat Al-

Baqarah, ayat 282 dan 283.

2. Dalil-dalil yang berasal dari hadist Nabi

Saw., HR. Bukhari dalam hadist yang

berasal dari ‘Aisyah r.a, HR. Turmudhi

dari Abu Hurairah r.a., dan HR. Ahmad,

Bukhari, Nasa’i dan Ibnu Majah hadist

dari Anas.

3. Ijma ulama. Berdasarkan Al Qur’an dan

Al Hadist di atas, menunjukkan bahwa

transaksi gadai pada dasarnya di-

bolehkan dalam Islam, bahkan Nabi

SAW. pernah melakukannya.

B. Hakikat dan Fungsi Penggadaian Syari’ah

Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 283

gadai hakikatnya merupakan salah satu

muamalah

kap menolong dan sikap amanah sangat

ditonjolkan. Dalam hadist Rasulullah Saw.

dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra. yang diri-

wayatkan Abu Hurairah, nampak sikap me-

nolong antara Rasulullah Saw. dengan

orang Yahudi saat Rasulullah Saw. mengga-

daikan baju besinya kepada orang Yahudi

tersebut.

Hakikat dan fungsi Pegadaian dalam Islam

adalah semata-mata untuk memberikan

pertolongan kepada orang yang membutuh-

marhun

minan, dan bukan untuk kepentingan

komersil dengan mengambil keuntungan

yang sebesar-besarnya tanpa menghiraukan

kemampuan orang lain.

C. Syarat Sah dan Rukun Gadai Syariah

Akad menurut Mustafa az-Zarqa’13 adalah

ikatan secara hukum yang dilakukan oleh 2

pihak atau beberapa pihak yang berkeingi-

nan untuk mengikatkan diri yang sifatnya

tersembunyi dalam hati. Ulama fiqh berbeda

rahn

jumhurrahn

lafadz ijab

qabulrahinmur-

tahinmarhun

marhum bih

rahn

rahn

1. Baligh dan berakal. Ulama Hanafiyah

hanya mensyaratkan cukup berakal saja.

mumayyiz

bedakan antara yang baik dan buruk)

rahn

syarat mendapatkan persetujuan wal-

inya. Menurut Hendi Suhendi, syarat be-

tasharuf

pu membelanjakan harta dan me-

mahami persoalan yang berkaitan

rahn

2. Syarat sighat (lafadz). Ulama Hanafiyah

mengatakan dalam akad itu tidak boleh

dikaitkan dengan syarat tertentu atau

dengan masa yang akan datang, karena

rahn

beli.

3.

marhun bih

Marhun bih

murtahin

Marhun bih

marhun

Marhun bih

tu.

4.marhun

Marhun

marhun bih

Marhun

manfaatkan (halal).

Marhun

Marhunrahin

Sri Dewi Anggadini