< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 5 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.15 No. 1

7

H a l a m a n

melunasi utangnya.

 Apabila rahin tetap tidak melunasi

utangnya, maka marhun dijual

paksa/dieksekusi.

 Hasil Penjualan Marhun digunakan

untuk melunasi utang, biaya pemeli-

haraan dan penyimpanan yang belum

dibayar serta biaya penjualan.

 Kelebihan hasil penjualan menjadi

milik rahin dan kekurangannya men-

jadi kewajiban rahin.

2. Ketentuan Penutup

a. Jika salah satu pihak tidak dapat

menunaikan kewajibannya atau jika ter-

jadi perselisihan diantara kedua belah

pihak, maka penyelesaiannya dilakukan

melalui Badan Arbritase Syariah setelah

tidak tercapai kesepakatan melalui

musyawarah.

b. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetap-

kan dengan ketentuan jika di kemudian

hari terdapat kekeliruan akan diubah

dan disempurnakan sebagai mana mes-

tinya.

PEMBAHASAN

Pegadaian syariah atau dikenal dengan

rahn

Fee Based Income

(FBI) atau Mudharobah (bagi hasil). Karena

nas ab ah

d alam

m em pergunak an

marhumbih (UP) mempunyai tujuan yang

berbeda-beda misalnya untuk konsumsi,

membayar uang sekolah atau tambahan

modal kerja, penggunaan metode

Mudharobah belum tepat pemakaiannya.

A. Perlakuan Bunga dan Riba dalam Gadai

Syariah

Afzalurrahman dalam Muhammad dan

Solikhul Hadi, memberikan pedoman bahwa

riba’bunga

terdapat 3 unsur berikut:

1. Kelebihan dari pokok pinjaman;

2. Kelebihan pembayaran itu sebagai imba-

lan tempo pembayaran; dan

3. Sejumlah tambahan itu disyaratkan da-

lam transaksi.

Berdasarkan hasil penelitian Muhammad

Yusuf, tentang Pegadaian Konvensional

dalam Perspektif Hukum Islam dan Viyolina,

dengan tentang Sistem Bunga dalam Gadai

Ditinjau dari Hukum Islam sebagai berikut:

1. Islam membenarkan praktik gadai yang

dilakukan dengan cara-cara dan tujuan

yang tidak merugikan orang lain dengan

syarat rukun bebas dari unsur yang dil-

arang dan merusak perjanjian gadai.

Praktik gadai konvensional, masih ter-

dapat beberapa hal yang dipandang

merusak dan menyalahi norma dan etika

bisnis Islam, di antaranya terdapatnya

riba’

disamakan dengan bunga.

2. Gadai yang berlaku saat ini masih ter-

syara’

satunya yaitu dalam upaya meraih keun-

tungan, gadai tersebut memungut sewa

modal atau bunga.

riba

gadai saat ini sudah pada tingkat yang

nyata, yaitu transaksi penetapan dan

penarikan bunga dalam gadai yang su-

dah jelas tidak sesuai dengan Al-Qur’an

dan Al-Hadis.

4. Penetapan bunga gadai awalnya sebagai

fasilitas untuk memudahkan menen-

tukan besar kecilnya pinjaman menjadi

kegiatan spekulatif dari kaum kapitalis

dalam mengekploitasikan keuntungan

yang besar, yang memberikan kema-

dharatan, sehingga penetapan bunga

gadai adalah tidak sah dan haram.

riba’

lam gadai syariah dalam usaha pemben-

tukan laba, maka menggunakan

mekanisme yang sesuai dengan prinsip-

akad qardhul

hasan dan akad ijarah, akad rahn, akad-

mudharabah, akad ba’i muqayadah,

akad musyarakah.

Sri Dewi Anggadini