< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 6 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.15 No. 1

8

H a l a m a n

B. Fungsi Sosial dari Penggadaian Syariah

Berdasarkan hadist-hadist yang men-

dasarinya menunjukkan bahwa fungsi Peng-

gadaian Syariah itu memang untuk fungsi

sosial. Alasan itu adalah:

1. Dengan terlembaganya gadai, Pegadaian

tetap dapat mendapatkan penerimaan

rahin

istrasi dan biaya jasa lainnya, seperti

jasa penyimpanan dan pemeliharaan.

Berarti Pegadaian tidak dirugikan.

2. Fungsi sosial tersebut masih diperlukan

guna membantu masyarakat yang mem-

butuhkan dana yang sifatnya mendesak.

3. Pegadaian tidak akan merugi karena ada

marhun

rahin

C. Teknik Transaksi

Akad Rahn.

peminjam sebagai jaminan atas

pinjaman yang diterimanya, pihak yang

menahan memperoleh jaminan untuk

mengambil kembali seluruh atau

sebagian piutangnya.

Akad Ijarah

guna atas barang dan atau jasa melalui

pembayaran upah sewa, tanpa diikuti

dengan pemindahan kepemilikan atas

barangnya sendri.

Tetapi pada kenyataannya, Penggadaian

Syariah memiliki beberapa akad adalah se-

bagai berikut:

1. Qard al- Hasan

Digunakan nasabah untuk tujuan

konsumtif, oleh karena itu nasabah

(rahin) akan dikenakan biaya perawatan

dan penjagaan barang gadai (marhun)

kepada pegadaian (murtahin).

2. Mudharabah

Akad yang diberikan bagi nasabah yang

ingin memperbesar modal usahanya

atau untuk pembiayaan lain yang bersi-

fat produktif.

3. Ba’i Muqayyadah

Akad ini diberikan kepada nasabah un-

tuk keperluan yang bersifat produktif.

Murtahin juga dapat menggunakan akad

jual beli untuk barang atau modal kerja

yang diingginkan oleh rahin. Barang

gadai adalah barang yang dimanfaatkan

oleh rahin ataupun murtahin.

4. Ijarah

Objek dari akad ini pertukaran manfaat

tertentu bentuknya adalah murtahin me-

nyewakan tempat penyimpanan barang.

Pemanfaatan Barang Gadaian dan Be-

rakhirnya Akad Rahn

Mayoritas ulama membolehkan pegadaian

memanfaatkan barang yang digadaikannya

selama mendapat izin dari murtahin selain

itu pengadai harus menjamin barang terse-

but selamat dan utuh. Dari Abu Hurairah r.a

bahsawanya Rasulullah saw berkata:

“Barang yang digadaikan itu tidak boleh

ditutup dari pemilik yang menggadaikannya.

Baginya adalah keuntungan dan tanggung

jawabnyalah bila ada kerugian atau

biaya” (HR Syafi’i dan Daruqutni). Se-

dangkan Mazhab Hambali, berpendapat

bahwa murtahin (penerima gadai) tidak

boleh mempergunakan barang rahn.

Akad rahn berakhir bila telah terjadi hal-hal

seperti disebutkan di bawah ini:

1. Barang telah diserahkan kembali pada

pemiliknya.

2. Rahin membayar hutangnya.

3. Pembebasan hutang dengan cara apa-

pun, meskipun dengan pemindahan oleh

murtahin.

4. Pembatalan oleh murtahin meskipun

tidak ada persetujuan dari pihak rahin.

5. Rusaknya barang rahin bukan oleh tinda-

kan atau pengguna murtahin.

6. Memanfaatkan barangrahn dengan ba-

rang penyewaan, hibah atau shadaqah

Sri Dewi Anggadini