< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12

Page 5 of 12
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.15 No. 1

17

H a l a m a n

Mengacu pada pendapat Denison (1990),

Plunket (2005), iklim organisasi merupakan

kualitas lingkungan internal yang dipersepsi

anggotanya. Suatu organisasi yang mampu

menciptakan iklim organisasi yang berkuali-

tas, akan mempengaruhi dan membentuk

perilaku kerja anggota organisasi yang pada

akhirnya berpengaruh pada kinerja organ-

isasi.

James dan Jenoe dalam Simamora (2004)

mengemukakan tiga pandangan tentang

iklim organisasi, sebagai berikut :

a. Iklim organisasi sebagai sekumpulan ciri

organisasi yang dapat diterangkan

dengan obyektivitas yang masuk akal.

Ciri-ciri ini membedakan organisasi

tersebut dengan organisasi lainnya yang

secara

relatif

bertahan

dan

mempengaruhi perilaku individu dalam

organisasi tersebut.

b. Iklim sebagai konsep yang merefleksikan

isi dan kelebihan dari nilai-nilai, norma,

perilaku dan perasaan para anggota dan

sebuah sistem sosial yang secara

operasional

dapat

diukur

melalui

persepsi dari anggota-anggota sistem.

c. Iklim organisasi itu mempunyai sesuatu

yang signifikan hanya pada setiap

individu. Karena individu tersebut itulah

yang terlibat atau tidak terlibat dalam

keputusan-keputusan, mengalami atau

tidak komunikasi yang efektif dan

hangat, mempunyai otonoi atau tidak,

dan sebagainya.

Iklim organisasi berhubungan erat

dengan suasana atau atmosfer yang

terdapat dalam organisasi itu sendiri

(Dessler, 2013). Dalam hal ini iklim

organisasi merupakan suatu variabel yang

mempengaruhi

kinerja

individu

dan

organisasi sebagai efek dari proses

organisasional dan psikologis. Iklim yang

dirasakan positif oleh karyawan akan

memunculkan perilaku yang inovatif yang

muncul dari pemikiran-pemikiran baru yang

tidak

terkekang

dan

mendapatkan

dukungan dari perusahaan. Selain itu,

karyawan akan memiliki persepsi yang

positif terhadap keberfungsian organisasi.

Maka dari itu menciptakan iklim kreatif

dalam sebuah organisasi menjadi sangat

penting

untuk

mendukung

dan

menstimulasi kreativitas individu-individu di

dalamnya.

Menurut

Hoogendoorn

(1999),

indikator iklim organisasi dalam suatu

perusahaan

adalah:

otonomi

dan

fleksibilitas, menaruh kepercayaan dan

terbuka, simpatik dan memberi dukungan,

jujur dan menghargai, kejelasan tujuan,

pekerjaan yang berisiko, serta pertumbuhan

kepribadian. Seorang pemimpin yang

mampu bersikap simpatik akan dihormati

karyawan, sehingga keputusan pemimpin

tersebut juga dapat dihormati dan dilakukan

oleh karyawan. Pemberian dukungan

kepada karyawan dalam setiap pekerjaan

juga akan menciptakan suasana atau iklim

kerja yang baik.

Selaras dengan pengembangan iklim

organisasi,

iklim

kerja

yang

positif

merupakan suatu kondisi dimana keadaan

perusahaan dan lingkungannya dalam

keadaan aman, damai, dan menyenangkan

untuk akivitas kerja pegawai. Sergiovanni

dalam Mangkunegara (2004) berpendapat

bahwa iklim secara umum diciptakan,

dibentuk dan disalurkan sebagai hasil dari

suatu kepemimpinan interpersonal yang

efektif oleh pimpinan organisasi. Pada

hakekatnya iklim bersifat interpersonal dan

dimanifestasikan dalam sikap dan perilaku

pimpinan,

pegawai

dalam

kegiatan

kerjanya. Selain itu, iklim merupakan energi

yang terdapat di dalam organisasi yang

dapat memberikan pengaruhnya terhadap

organisasi, tergantung bagaimana energi

tersebut di salurkan dan diarahkan oleh

pimpinan organisasi. Semakin baik energi

yang disalurkan dan diarahkan maka

semakin baik pula pengaruhnya terhadap

perusahaan.

Interaksi di dalam tempat kerja, baik

yang lisan maupun yang tertulis mutlak

diperlukan dan akan memberikan dampak

proses dan hasil kerja yang positif. Kolb,

et.al

Eddy Soeryanto Soegoto