< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14

Page 2 of 14
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.15 No. 1

26

H a l a m a n

melunasi hutangnya setelah jangka waktu

tertentu dengan pemberian bunga.

Salah satu jenis kredit yang diberikan oleh

bank dan banyak diminati oleh masyarakat

Indonesia adalah kredit pemilikan rumah

atau yang lebih dikenal dengan sebutan

KPR. KPR merupakan kredit yang diberikan

bank untuk membantu nasabah dalam me-

menuhi kebutuhan rumahnya. Dalam

melakukan perkreditan rumah ini, nasabah

atau pemohon KPR harus memenuhi per-

syaratan yang ditetapkan oleh masing-

masing bank yang bersangkutan. Bila per-

syaratan tersebut telah dipenuhi maka bank

akan memberikan KPR tersebut sesuai

dengan kesepakatan sebelumnya.

Setelah

kredit

mencapai

tingkat

pertumbuhan yang tinggi yang disebabkan

karena pendapatan masyarakat meningkat

sehingga daya beli masyarakatpun ikut

meningkat dan jumlah penduduk yang

semakin meningkat, pertumbuhan kredit

pemilikan rumah kemudian mulai melambat

dari 37 % pada bulan oktober menjadi

29,5% pada akhir tahun 2008. Namun

Sejak awal 2009, pertumbuhan kredit

pemilikan rumah cenderung relatif datar,

sehingga sampai dengan akhir bulan Juni

kredit hanya tumbuh sebesar 2,1%. Selama

semester I 2009, pertumbuhan kredit

pemilikan rumah cukup tinggi terjadi pada

bulan Juni 2009, yaitu sebesar 6,9%.

www.bi.go.id

No. 13, Sept 2009)

berdasarkan data yang dihimpun Kompas,

dari target pembangunan 130.000 unit

rumah sangat sederhana (RSS) pada tahun

2007 yang terealisasi hanya 39.979 unit.

Selain itu, penerima kucuran KPR tersebut

masih masyarakat dengan penghasilan yang

cukup

baik.

Belum

optimalnya

pembangunan

perumahan

tersebut

membuat krisis rumah, dengan kekurangan

secara nasional saat ini mencapai 6,2 juta

unit. Volume ini belum terhitung kebutuhan

rumah baru akibat pertumbuhan penduduk,

yang rata-rata 800.000 unit per tahun.

(www.bankaltim.com,

28 Juli 2009)

Dari artikel tersebut dapat dilihat bahwa

penyaluran KPR ini belum terealisasi

dengan baik karena belum tercapainya

target yang diinginkan. Selain itu terdapat

juga pemerataan yang belum terealisasi

dengan baik karena masih banyaknya

masyarakat kelas menengah ke bawah yang

belum memiliki rumah melalui KPR. Hal ini

dapat dilihat dari banyaknya debitor yang

merupakan pegawai dengan penghasilan

yang baik, sehingga masyarakat kecil masih

tersingkirkan karena persyaratan yang

masih sangat sulit.

Dalam pemberian kredit pemilikan rumah

ini, nasabah dikenakan bunga sebagai biaya

peminjaman sesuai dengan suku bunga

yang telah ditetapkan oleh bank yang

bersangkutan. Selain dikenakan bunga,

bank juga mengenakan jasa pinjaman

kepada penerima kredit dalam bentuk biaya

administrasi serta biaya provisi dan komisi.

Tingkat persaingan suku bunga antar bank

sangat berpengaruh dalam penetapan suku

bunga suatu bank. Bank harus dapat mem-

buat strategi yang baik dalam menerapkan

suku bunganya agar para nasabah tertarik

untuk melakukan kredit. Bila bank tidak

mampu menerapkan suku bunga dengan

baik maka akan berdampak pada asumsi

masyarakat menjadi negatif. Suku bunga

yang tinggi dapat menghalangi seseorang

untuk membeli rumah karena mereka

beranggapan ongkos pembiayaannya akan

tinggi.

Wakil Ketua Perbanas Jatim, Pujiono Santo-

so menyatakan bahwa kenaikan suku bun-

ga akan berpengaruh terhadap pertum-

buhan KPR. Kenaikan suku bunga akan

berakibat pada KPR yang mulai kembali

mengalami pertumbuhan sejak terpuruk

akibat hantaman dari kenaikan harga BBM

pada 2005. Pada tahun 2005 pertumbuhan

KPR menurun hingga 30 % karena bank-

bank menaikkan suku bunga mereka untuk

mengantisipasi banyaknya resiko pada

Wati Aris Astuti, Novi Nurmala Dewi