< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14

Page 8 of 14
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.15 No. 1

32

H a l a m a n

Dimana pada triwulan pertama besarnya

tingkat suku bunga adalah 18%. Pada

triwulan kedua tahun 2003, tingkat suku

bunga mengalami kenaikan menjadi 19%.

Hal

ini

dikarenakan

perekonomian

indonesia

kurang

stabil

sehingga

menyebabkan bank-bank menaikkan tingkat

suku bunganya agar tidak mengalami risiko

kredit yaitu kredit macet dan mengalami

kerugian yang cukup berarti. Pada triwulan

ketiga tahun 2003, tingkat suku bunga

mengalami penurunan menjadi 17,75%. Hal

tersebut

disebabkan

oleh

keadaan

perekonomian

yang

mulai

membaik

sehingga bank menurunkan tingkat suku

bunganya

untuk

menarik

perhatian

masyarakat agar mengajukan permohonan

kredit. Pada triwulan keempat tahun 2003,

tingkat suku bunga mengalami penurunan

kembali menjadi 16,5%.

2. Tahun 2004

Pada triwulan pertama tahun 2004, tingkat

tingkat suku bunga mengalami penurunan

menjadi 14,75%. Pada triwulan kedua

tahun 2004, tingkat suku bunga mengalami

penurunan menjadi 14%. Hal tersebut

dikarenakan keadaan perekonomian yang

mulai membaik sehingga kemampuan bank

mengalami

peningkatan

pula

dan

menyebabkan bank menurunkan tingkat

suku bunganya untuk menarik perhatian

masyarakat agar mengajukan permohonan

kredit. Pada triwulan ketiga dan keempat

tahun 2005, tingkat suku bunga tetap

sebesar 14%. Hal ini dikarenakan BI Rate

tetap sehingga bank tidak menaikkan atau

menurunkan tingkat suku bunga KPRnya.

3. Tahun 2005

Pada triwulan pertama tahun 2005, tingkat

suku bunga mengalami penurunan menjadi

13,5%.

Hal

tersebut

dikarenakan

perkreditan KPR tersebut mengalami

peningkatan pada tahun 2004 sehingga

tingkat resiko pada perkreditan menurun

dan bank menurunkan tingkat suku

bunganya. Peningkatan kemampuan bank

tersebut menyebabkan tingkat suku bunga

mengalami penurunan dan mendekati BI

Rate yang menunjukkan bank tersebut

sehat dan berkembang pesat. Pada triwulan

kedua tahun 2005, suku bunga mengalami

penurunan menjadi 13%, dan tetap sampai

triwulan ketiga. Pada triwulan keempat

tahun 2005, BI Rate mengalami kenaikan

sebesar 3% sehingga menyebabkan tingkat

suku bunga mengalami kenaikan yang

sangat besar yaitu sebesar 3% pula. Hal

tersebut dikarenakan harga BBM yang

sangat mahal sehingga menyebabkan

perekonomian tidak stabil dan perkiraan

inflasi meningkat sehingga menyebabkan

daya beli masyarakat menurun dan

menyebabkan terjadinya kredit macet. Saat

inilah perkreditan perbankan mengalami

keterpurukan.

4. Tahun 2006

Pada tahun 2006 merupakan tahun per-

tama

setelah

terjadi

keterpurukan

perkreditan yang terjadi di Bank-bank di

Indonesia termasuk PT. Bank Rakyat Indo-

nesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Pama-

nukan. Pada triwulan pertama dan kedua

tahun 2006 perkembangan tingkat suku

bunga KPR tetap yaitu sebesar 16%. Hal ini

dikarenakan

kondisi

stabilitas

perekonomian masih belum stabil kembali

yang merupakan imbas dari keterpurukan

pada tahun 2005 Selain itu dikarenakan

adanya kekhawatiran akan risiko kredit

yang mungkin terjadi seperti yang terjadi

pada

tahun

2005,

sehingga

Bank

mengantisipasi hal tersebut dengan tidak

menaikkan atau menurunkan tingkat suku

bunganya. Pada triwulan ketiga tahun 2006,

tingkat suku bunga mengalami penurunan

menjadi 15,5% dan pada triwulan keempat

tahun 2006, tingkat suku bunga mengalami

penurunan kembali sebesar 0,5 % yaitu dari

15,5% menjadi 15%. Hal ini dikarenakan

kondisi stabilitas perekonomian sedang

stabil dan BI Rate mengalami penurunan

sehingga bank menurunkan tingkat suku

bunganya agar permintaan KPR meningkat.

Wati Aris Astuti, Novi Nurmala Dewi