< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 2 of 8
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.15 No. 1

40

H a l a m a n

kepada Indonesia, sehingga membuat nilai

ekspor Indonesia pun ikut berkurang.

Pada periode 2011-2015 trend yang terjadi

pada ekspor Indonesia terhadap China

cenderung

mengalami

penurunan.

Penurunan terbesar ekspor Indonesia

dengan China terjadi pada tahun 2014 yaitu

sebesar 22,1% yang dilihat dari grafik ek-

spor-impor antara Indoensia dan China.

Selain berdampak pada penurunan ekspor

di Indonesia, keadaan ekonomi China yang

megalami penurunan serta perlambatan

pertumbuhan ikut memberikan dampak

terhadap ekspor di negara itu sendiri. Pada

Juli 2015, pemerintah China melaporkan

data ekspor China yang mengalami

penurunan sebesar 8,3% berada jauh di

bawah estimasi mengenai penurunan ek-

spor sebesar 1%. Hal tersebut membuat

pemerintah China melakukan devaluasi

yuan pada 11 Agustus 2015. Devaluasi

adalah penurunan nilai mata uang dalam

negeri terhadap mata uang luar negeri. Ma-

ta uang Yuan melemah dari 6.229 per dollar

AS menjadi 6.116 per dollar AS di pasar

www.print.kompas.com)

Devaluasi yuan memberikan sentimen

negatif terhadap pasar saham Indonesia.

Mengingat China merupakan mitra dagang

utama

Indonesia

maka

perlambatan

ekonomi China akan turut berdampak pada

perekonomian Indonesia. Indeks Harga Sa-

ham

Gabungan

(IHSG)

pada

akhir

perdagangan tanggal 14 Agustus 2015 di-

tutup pada zona merah dengan turun sebe-

www

.lps.go.id

)

timent negatif dari terjadinya devaluasi Yu-

an dapat dilihat dari perkembangan saham

IHSG dan SHCOMP pada periode 2011-

2014 yang dimana saat perkembangan

SHCOMP menurun, perkembangan IHSG

pun menurun, begitu juga saat perkem-

bangan indeks saham China mengalami

kenaikan.

Namun,

terjadi

perbedaan

perkembangan pada tahun 2015 yang di-

mana indeks saham China mengalami ke-

naikan namun indeks saham Indonesia

mengalami penurunan.

Terjadinya

perlemahan

pertumbuhan

ekonomi

China

yang

menyebabkan

penurunan hasil ekspor di China dan negara

yang mempunyai hubungan mitra yang kuat

seperti

Indonesia

pun

mengalami

penurunan

dan

akhirnya

membuat

pemerintah China melakukan devaluasi

yuan yang dimana devaluasi yuan tersebut

mempunyai keterkaitan dengan terjadinya

penurunan pasar saham China yang juga

memberikan dampak terhadap penurunan

pasar saham Indonesia. Keterkaitan pasar

saham China dan Indonesia ini men-

imbulkan terjadinya spillover volatilitas pada

pasar saham di kedua negara tersebut.

Volatilitas dapat memberikan informasi

penting sejauh mana harga suatu saham

saat ini, apakah terjadi menyimpang dari

rata-rata harga saham sebelumnya dan

volatilitas harga saham yang tinggi

menandakan bahwa saham tersebut tingkat

risiko yang tinggi. Dalam penelitian ini,

penulis

ingin

mengetahui

terjadinya

Spillover Volatilitas pada pasar saham

Indonesia dan China serta hubungan

Spillover Volatilitas pada pasar saham

Indonesia dan China, dimana masing-

masing pasar saham diwakili dengan

perubahan IHSG dan SHCOMP selama

periode 3 Januri 2011-31 Desember 2015.

DASAR TEORI DAN METODOLOGI

1. Dasar Teori

Saham merupakan salah satu dalam aset

keuangan yang dimana saham digunakan

sebagai bentuk klaim seorang individu atas

aset rill mereka disuatu perusahaan.(Bodie

et al, 2014)

Pasar saham atau yang lebih dikenal

dengan bursa efek adalah bursa efek

adalah

lembaga/perusahaan

yang

menyelenggarakan/menyediakan

fasilitas

pasar untuk mempertemukan penawaran

jual dan beli efek antar berbagai

perusahaan/perorangan

yang

terlibat

Mariyatul Kibtiyah, Andrieta Shintia Dewi

, Tieka Trikartika G