< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12

Page 6 of 12
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.7, No. 1

118

H a l a m a n

memfasilitasi dukungan , kepercayaan dan

bantuan sepenuhnya.

Pada sisi lain Brown and Leigh (1996)

supportive management

merupakan dimensi utama keamanan

secara psikologis bagi para pegawai di

tempat kerja Lebih lanjut Brown and Leigh

mengatakan

bahwa

supportive

management

manajer /atasan membiarkan bawahannya

untuk bekerja tanpa disertai rasa takut akan

hukuman yang akan diterimanya kalau dia

gagal. Hal itu juga berkaitan dengan

pemberian kendali atas pekerjaan yang

lebih besar kepada para karyawan atas

upaya kerja mereka dan bagaimana para

pegawai

tersebut

mencapai

tujuan

pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam penelitian terdahulu yang

dilakukan oleh Singh (2000) dalam Mahn

Hee Yoon, Sharon E. Beatty and Jaebeom

Suh (2001) dikatakan bahwa pada

service organization

suatu lingkungan yang mendukung seperti

dukungan atasan akan membangun

komitmen, meningkatkan kinerja dan

turn over

Dapat

dipahami

bahwa

apabila

karyawan merasa bahwa manajer mereka

memperhatikan dan memberikan otoritas

serta kendali sesuai dengan pekerjaan

mereka, maka mereka akan merasa lebih

positif terhadap pekerjaan., dan dengan

demikian para karyawan akan lebih

sungguh-sungguh dalam melakukan usaha

dan upaya yang lebih untuk menyelesaikan

pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya

dengan baik.

Manajemen yang mendukung bisa

menjadi isyarat bahwa para manajer

mempercayai karyawannya dan merasa

yakin atas kemampuan karyawan dalam

melaksanakan pekerjaannya. Dukungan

manajemen secara potensiil berdampak

pada upaya kerja, yang menggambarkan

status emosional dalam diri seorang

karyawan terhadap pekerjaan dan hasil

kerjanya termasuk nilai-nilai dan prestasi

keberhasilan pekerjaan yang dirasakan.

Ha 3 : Dukungan manajemen berpengaruh

signifikan terhadap upaya kerja

Upaya kerja secara umum dapat

diartikan sebagai segala daya, aktifitas dan

usaha

yang

dikeluarkan

untuk

menyelesaikan sesuatu atau serangkaian

pekerjaan. Secara psikologis, upaya kerja

yang dilakukan oleh seorang karyawan akan

berpengaruh terhadap kepuasan kerja yang

dirasakan dalam diri karyawan yang

bersangkutan. Kepuasan kerja seorang

karyawan

secara

langsung

akan

berimplikasi terhadap kinerja pelayanan

yang

diberikan

kepada

pelanggan

perusahaan/

pelanggan

eksternal

,

sebagaimana dikemukakan oleh Locke et

al. (1981) dan Cherington (1980) bahwa

effort

pengeluaran energi yang dipakai untuk

melakukan sesuatu atau serangkaian

perilaku. Upaya kerja yang dilakukan

cenderung

meningkatkan

penilaian

karyawan terhadap objek pekerjaan , hasil

kerja dan pernyataan perasaan terhadap

pelaksanaan pekerjaannya.

Mahn He

Yoon, Sharon E. Beatty and

Jaebeom Suh (2001: pp.504) mengatakan,

berdasarkan pada nilai perspektif

pekerjaan , kesibukan dalam melakukan

suatu usaha/upaya di dalam pekerjaan

lebih menyerupai kecenderungan memiliki

konsekuensi sebab usaha/upaya kerja

menghasilkan suatu perasaan bermartabat,

menghargai diri sendiri dan kepuasan.

Upaya kerja mempunyai suatu daerah

konseptual yang luas, sebab mencakup

semua karakteristik yang menyangkut

pekerjaan itu sendiri atau lingkungan

pekerjaan dimana seorang pegawai

memahami dan merasa memberi dan diberi

penghargaan, memenuhi dan dipenuhi

kebutuhan, merasa puas atau sebaliknya

membuat frustasi, dan membuat orang

tidak puas Mahn Hee Yoon, Sharon E.

Beatty dan Jaebeom Suh (2001: pp.503)

mengatakan bahwa manajemen yang

mendukung dapat mengarahkan respons

sikap dan perilaku positif karyawan, ketika

karyawan menerima dukungan dan otoritas

yang lebih besar dari manajemen, maka

Siti Kurnia Rahayu