< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14Page 15Page 16

Page 5 of 16
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.7, No. 1

65

H a l a m a n

Adanya standar atau hasil yang

diinginkan, maka dengan mudah untuk

mengetahui penyimpangan kualitas

pelayanan. Standar harus jelas, tepat

dan dapat terukur termasuk dalam

batas waktunya, sehingga mudah

dikomunikasikan dan diterjemahkan

atau dilaksanakan oleh para

pelaksana. Adanya penetapan target

atau sasaran yang diinginkan akan

menjadi sebuah kriterium guna

mengukur kenyataan yang dihasilkan

kemudian dibandingkan dengan

keadaan yang diinginkan. Selain

kejelasan rumusan hasil atau terget

yang diinginkan juga sebagai kejelasan

tolok ukur standar kualitas layanan.

Bila target yang diinginkan manajemen

Dinas Perdagangan dan Perindustrian

tidak jelas atau tidak terukur secara

kuantitatif akan mengakibatkan tidak

berfungsinya pengawasan.

measurement)

Pengukuran kinerja merupakan proses

yang berulang-ulang dilakukan dan

terus menerus dan benar, baik

intensitasnya

dalam

bentuk

pengukuran harian, mingguan, atau

bulanan sehingga tampak yang diukur

antara mutu dan jumlah hasil.

Penetapan standar akan sia-sia bila

tidak disertai berbagai cara untuk

mengukur pelaksanaan kegiatan. Oleh

karena

itu,

menurut

Handoko

(1998:364),

mengatakan

ada

beberapa pertanyaan yang penting

yang

harus

dijawab

sebelum

melakukan pengukuran yaitu : (a).

how often)

seharusnya diukur-setiap jam, harian,

mingguan, bulanan. (b).Dalam bentuk

(what form)

apakah laporan tertulis, inspeksi

mendadak, melalui telepon; (c). Siapa

(who) yang

pengawasan,

manajer,

staf

departemen.

3.

(compare)

yaitu membandingkan hasil yang

dicapai dengan target atau standar

yang telah ditetapkan, mungkin kinerja

lebih tinggi, atau lebih rendah atau

sama dengan standar. Proses ini akan

menemukan adanya penyimpangan-

penyimpangan antara standar dengan

realisasi, apakah standar dapat

tercapai. Melakukan perbandingan

akan

mudah

mengetahui

penyimpangan yang terjadi. Bila

perbandingan tidak dilakukan antara

hasil

yang

diharapkan

dengan

kenyataan yang dihadapi maka fungsi

manajemen tidak berfungsi. Karena

itu,

pihak

manajemen

Dinas

Perdagangan dan Perindustrian perlu

melakukan perbandingan antara hasil

yang diharapkan dengan kenyataan

yang dihadapi.

4.

Dimensi

Melakukan

tindakan

(action,)

tindakan

koreksi-koreksi

atau

perbaikan. Bilamana telah terjadi

penyimpangan

(deviasi)

antara

strandar dengan realisasi perlu

melakukan

tindakan

Follow-Up

berupa mengoreksi penyimpangan

Follow-Up

tindakan ini dapat dilakukan apakah

dengan merubah standar, ukuran

atau norma. Menurut Handoko

(1998:365)

tindakan

koreksi

mungkin berupa : (a). Mengubah

standar

mula-mula

(barangkali

terlalu tinggi atau terlalu rendah). (b).

Mengubah pengukuran pelaksanaan

(inspeksi terlalu sering frekuensinya

atau kurang atau bahkan mengganti

sistem pengukuran itu sendiri). (c).

Mengubah cara dalam menganalisa

dan

menginterpretasikan

penyimpangan-penyimpangan.

Keempat

dimensi-dimensi

pengawasan perlu dilakukan oleh

pihak

manajemen

Dinas

Monang Sitorus