< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 2 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.8, No. 1

50

H a l a m a n

PP No.3 2001

Tentang Keamanan dan

Keselamatan

Penerbangan

serta

SK

No.KM9/02

berkaitan

dengan

tarif

US$0.11/km,

disampingKebijakan

deregulasi

penerbangan

1999

lahir

maskapai baru dari 7 menjadi 28

maskapai yang dioperasikan.

Melihat

kondisi

transportasi

udara tanah air berbagai fenomena muncul

berkaitan dengan keterpurukan hal ini

dapat dilihat dari komplain yang dilontarkan

masyarakat pengguna jasa berkaitan

buruknya pelayanan beberapa operator

penyedia jasa transportasi udara, bekunya

adam air, seringkali terjadi keberangkatan

pesawat yang tertunda, kelas penumpang,

harga yang dibayarkan, fasilitas dan

pelayanan, bahkan pesawat mengalami

cancel

yang tidak memuaskan dari berbagai

maskapai di Indonesia menunjukkan

lemahnya pengelolaan pesawat perusahaan

penerbangan di tanah air, yang berdampak

pada keputusan-keputusan yang merugikan

penumpang.

blacklist

diberlakukan 6 Juli 2007seluruh maskapai

Indonesia dilarang terbang ke karena

pesawatnya tidak aman. Termasuk garuda

sebagai ikon kebanggaan nasional yang

sempat menduduki Peringkat Pertama

menurut ranking Dephub. Angkasa Pura II,

2007. Uni Eropa menyatakan tiap sejuta

take off rasio kecelakaan sudah mencapai

3.77 persen diatas rata-rata internasional.

Hasil

Prasurvei

2007

menunjukkan respon penilaian penumpang

terhadap kinerja bauran pemasaran jasa,

positions

kepercayaan

pesawat

perusahaan

penerbangan berada pada kategori cukup.

Forecast departemen perhubun-

gan yang diperkirakan di tahun 2008 jumlah

penumpang 44 jt belum tercapai, jumlah

penumpang merosot sebesar 37 jt penum-

pang 2008.

Fenomena

tersebut

mengindikasikan pelayanan yang belum

memadai sehingga tercipta mis-match

antara penumpang vs operator&regulator,

maka usaha untuk menjebatani kegiatan

penumpang/masyarakat

pengguna

transportasi angkutan udara tidak hanya

mampu memfasilitasi akan tetapi faktor

paling

penting

adalah

bagaimana

memberikan pelayanan dengan sebaik-

baiknya. Keterkaitan sekelompok orang

atau individu tertentu sebagai pengguna

jasa yang lebih bersifat banyak menuntut,

aggresif, dan mudah kecewa akan

memberikan suatu permasalahan jika

pelayanan yang kita berikan dirasakan

kurang memadai hal ini yang perlu

diantisipasi dengan sedemikian rupa

sehingga dapat meminimalisasinya serta

tidak

tercipta

kesenjangan

antara

pengguna/penumpang dengan penyedia

jasa (operator) yang berkepanjangan

khususnya

masalah

kebutuhan/

kepentingan pengguna jasa sewaktu

menggunakan

transportasi

angkutan

udara, dan dapat teratasi dengan baik. Hal-

hal yang dilakukan operator bagi pelanggan

pada

dasarnya

adalah

berupaya

memuaskan pelanggan, mem-pertahankan

pelanggan, membangun kepercayaan yang

tinggi. Jika hal-hal tersebut sudah dapat

dicapai

oleh

perusahaan

maka

keberhasilan bisnis dan kemenangan

dalam kancah persaingan akan diperoleh.

Berdasarkan fenomena diatas maka

permasalah dapat dirumuskan sebagai

berikut :

1. Bagaimana kinerja bauran pemasaran

positions

pelanggan

(penumpang)

dan

kepercayaan pelanggan (penumpang)

yang

dilaksanakan

pada

pesawat

perusahaan penerbangan rute Jakarta-

Surabaya.

2. Bagaimana hubungan antara kinerja

bauran pemasaran jasa dan keunggulan

positions

pesawat

perusahaan

penerbangan rute Jakarta-Surabaya.

3. Sejauhmana pengaruh kinerja bauran

pemasaran

jasa

dan

keunggulan

positions

(penumpang)

pesawat

perusahaan

penerbangan rute Jakarta-Surabaya,

baik secara parsial maupun simultan.

4. Sejauhmana pengaruh kinerja bauran

Dedi Sulistiyo Soegoto