< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14Page 15

Page 4 of 15
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.9, No. 1

110

H a l a m a n

gaya tekan yang besar di antara dua per-

mukaan pelat yang tersambung. Sehingga

tercipta gaya jepit yang sangat besar ter-

hadap bagian-bagian yang dihubung-

kannya. Sebagai akibat gaya jepit terse-

but, permukaan kontak akan mempunyai

kemampuan untuk meneruskan beban

secara friksi.

Karena tahanan friksi diperlukan,

maka gaya tarik awal harus setinggi mung-

kin tanpa menyebabkan terjadinya defor-

masi permanen atau kegagalan pada

baut. Gaya tarik awal pada baut mutu

proof load

dengan cara mengalikan luas penampang

proof

Tegangan leleh tersebut diperkirakan mini-

mal dari 70% hingga 80% dari tegangan

tarik minimum baut mutu tinggi. ASTM

mentabelkan nilai tegangan ini berdasar-

kan diameter baut yang digunakan. Seba-

gai contoh untuk baut mutu A325 berdia-

meter ½ hingga 1 inch memiliki tegangan

tarik minimum 825 MPa maka tegangan

leleh minimum yang diperlukan untuk

proof load

(Salmon & Johnson, 1990). Selanjutnya,

AISC-LRFD 2005 mentabelkan minimum

gaya tarik baut mutu tinggi yang diken-

cangkan secara penuh (fully-tightened)

dalam Tabel J3.1 untuk satuan kips dan

Tabel J3.1M untuk satuan kN pada hala-

man 103.

Sedangkan SNI 03-1729-2002 menta-

belkan gaya tarik baut minimum pada ha-

laman 171 dengan satuan kN. Berbagai

proof load

dapat dilihat dalam Tabel 2 dan 3 berikut,

dimana nilai

pada tabel tersebut

mendekati dengan nilai yang diperoleh

dari persamaan baut yang mengalami

gaya tarik yaitu:

Y. Djoko Setiyarto

DIMENSI BAUT

DIMENSI MUR

Diameter

F

H

Pjg. Ulir

W

H'

in

mm

in

mm

in

mm

in

mm

in

mm

in

mm

1/2

12.7

7/8

22.2

5/16

7.9

1

25.4

7/8

22.2

31/64

12.3

5/8

15.9

17/16

27.0

25/64

9.9

5/4

31.8

17/16

27.0

39/64

15.5

3/4

19.1

5/4

31.8

15/32

11.9

11/8

34.9

5/4

31.8

47/64

18.7

7/8

22.2

23/16

36.5

35/64

13.9

3/2

38.1

23/16

36.5

55/64

21.8

1

25.4

13/8

41.3

39/64

15.5

7/4

44.5

13/8

41.3

63/64

25.0

9/8

28.6

29/16

46.0

11/16

17.5

2

50.8

29/16

46.0

71/64

28.2

5/4

31.8

2

50.8

25/32

19.8

2

50.8

2

50.8

39/32

31.0

11/8

34.9

35/16

55.6

27/32

21.4

6/4

38.1

35/16

55.6

43/32

34.1

3/2

38.1

19/8

60.3

15/16

23.8

6/4

38.1

19/8

60.3

47/32

37.3

F = Diameter Kepala Baut

H = Tebal Kepala Baut

H’ = Tebal Mur W = Diameter Mur

Tabel 1 Detail Dimensi Baut A325 beserta Mur (Salmon & Johnson 1990)

Gambar 3 Baut Mutu Tinggi dengan Kepala Baut dan Mur Segi Enam (Salmon & Johnson