< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12

Page 9 of 12
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.14 No. 1

37

H a l a m a n

Di zaman Edo yang damai, meskipun samu-

rai tidak lagi turun ke medan tempur, na-

mun samurai tetap mengabdi kepada dai-

myo atasannya dengan menerima upah.

Namun begitu, samurai tetap dianggap se-

bagai golongan terhormat yang diunggulkan

sama seperti masa-masa sebelumnya se-

hingga layak menjadi panutan dan pem-

impin dalam masyarakat. Hal ini adalah sa-

lah satu alasan yang menjadikan golongan

samurai menempati kelas teratas dalam

stratifikasi sosial masyarakat Jepang yang

diciptakan pada zaman itu. Sebagai golon-

gan yang disegani dan mulai diperhitungkan

sejak awal kemunculannya dalam sejarah

Jepang di akhir zaman Heian, lalu menjadi

golongan terhormat sejak zaman Kamakura,

lantas membuat golongan samurai secara

langsung menerima penilaian serta perla-

kuan khusus dari masyarakat. Kondisi sosial

ini dalam novel Tokaido Inn direpresentasi-

kan dalam peristiwa ketika Seikei dan sang

ayah sedang berada di tengah perjalanan

menuju Edo, lalu dari arah belakang daimyo

dan pasukan samurainya akan melewati

jalan yang sama, sebagai berikut :

“Minggir!” seru lelaki itu. Seikei bersimpuh

dan menundukkan kepala. Para penziarah

di pos pemeriksaan segera ke pinggir dan

melakukan hal yang sama dengan yang

dilakukan Seikei. Sangat ceroboh jika tidak

menunjukkan penghormatan pada para

samurai

(Tokaido Inn : 17)

…”Kau lihat,” ayah Seikei melanjutkan,

“betapa beruntungnya kita bisa bepergian

dengan nyaman dan aman di dalam kago.”

“Tetap saja, “balas Seikei, “lebih baik men-

jadi samurai. Membuat setiap orang me-

nyingkir, memberi jalan, dan membungkuk,

di depanmu serta menyandang sepasang

pedang untuk berperang.”

(Tokaido Inn : 20)

Kutipan diatas menggambarkan bagaimana

sikap orang biasa dalam menunjukkan rasa

hormat kepada samurai sebagai golongan

terhormat pada masa Edo yaitu dengan

membungkuk atau bersimpuh dan menun-

dukkan kepala. Orang biasa harus tunduk

dan menaruh hormat pada samurai. Jika

seseorang menyinggung samurai, misalnya

menghina atau tidak sengaja menyentuh

pedang samurai, orang itu dianggap telah

melakukan kesalahan besar. Nyawanya pun

bisa terancam hilang karena samurai ber-

World History-The Rise

of Samurai,

daimyo, kedudukannya sebagai pimpinan

tertinggi militer di wilayah kekuasaannya,

member kekuasaan yang begitu besar bagi

yang bersangkutan. Kondisi sosial ini

direpresentasikan dalam novel Tokaido Inn

dalam kutipan dialog daimyo Hakuseki beri-

kut :

“Apa urusannya? Dia bukan samurai. Aku

punya kuasa atas siapa pun yang hidup di

daerahku. Aku bisa memperlakukan mereka

semauku. Tunjuk saja jika dia memang pen-

curi permataku, dan akan kusurh salah satu

penjagaku untuk segera memenggalnya.”

(Tokaido Inn :100)

Kedudukan terhormat yang melekat pada

golongan samurai melahirkan perbedaan

dengan golongan masyarakat lainnya

menurut garis pembatas ketat status sosial

yang memisahkan samurai dari orang biasa

(Beasley, 2003:216). Pada zaman Edo ini,

banyak aturan yang ditetapkan oleh

Keshogunan untuk samurai. Masih dalam

sumber yang sama, disebutkankan bahwa

samurai harus mempelajari urusan sipil dan

urusan militer dan hidup sederhana dan

hemat. Aturan ini diperkuat oleh peraturan

yang melarang mabuk-mabukan, perilaku

tidak senonoh, “berpesta sampai lupa diri”,

pakaian berlebihan dan tidak tepat, dan

mengadakan perjalananan dengan iring-

iringan yang berlebihan besarnya (bagi dai-

myo) (Beasley, 2003:166). Kondisi sosial

tersebut dalam novel Tokaido Inn direpre-

sentasikan seperti dalam kutipan-kutipan

dialog berikut :

“Kami orang kabuki,” kata Kazuo.

”Kami mencari aktor.”

Fenny Febrianty