< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 3 of 8
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.16 No. 1

5

H a l a m a n

dilihat bahwa soft power merupakan suatu keahlian

untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa

paksaan atau tanpa harus membayar namun me-

lalui melakukan sesuatu yang menarik sehingga

pihak lain dengan sukarela melakukan hal tersebut.

Soft power suatu negara bersumber dari budaya,

nilai-nilai, dan kebijakan (Nye, 2004).

Kemunculan jejaring sosial facebook pada Februari

2004 di satu sisi memberikan angin segar, kaena

banyaknya pengguna facebook dari berbagai ka-

langan anak,remaja,dewasa dan orang tua di se-

luruh dunia membuat informasi tersebar dengan

sangat cepat secara global, banyak bermunculan

akun facebook mengenai fan base dari artis/group

terkenal diseluruh dunia. Dimana secara tidak sadar

para pengguna facebook mulai mengadopsi gaya

berpakaian dan kebiasaan idola mereka. Gaya ber-

pakaian serta kebiasaan para artis ini yang menjadi

trendsetter tentu saja tidak akan terlepas dari asal

negara mereka berada. Secara tidak langsung pasti-

nya orang tersebut membawa, memperkenalkan

budayanya dengan harapan dapat diadopsi oleh

orang lain.

Maraknya kemunculan jejaring-jejaring sosial yang

lain berdampak pada perubahan gaya hidup sebagi-

an pengguna jejaring social tersebut. Dimana ke-

banyakan pengguna jejaring sosial merupakan

remaja yang masih labil sehingga mudah terbawa

arus.

Selain dari pergeseran kurang eratnya rasa

kekeluargaan dan silaturahmi dampak dari medsos

yang lain adalah bergesernya pola hidup. Demi

pemenuhan kepuasan akan kebutuhan style yang

kekinian remaja sekarangpun hampir melupakan

ada ketimuran dalam berpakaian. Mereka kini

dengan bangganya mengadopsi cara berpakaian

kebarat-baratan yang serba terbuka. Hal tersebut

cross culture

seperti apa yang di ungkapkan oleh Kim Young

Youn (2001) sebagai berikut:

…………the theory further argues

that, as we keep our sight on the

goal of successful adaptation in the

host society, we experience a gradu-

al personal identity transformation—

a subtle and largely unconscious

change that leads to an increasingly

intercultural personhood. Of signifi-

cance in this process is the develop-

ment of a perceptual and emotional

maturity and a deepened under-

standing of human conditions.

Pendapat Kim di atas menjelaskan bahwa adaptasi

yang berhasil pada masyarakat tuan rumah yaitu

dimana kita akan mengalami perubahan gradual

transformasi identias secara halus, perlahan dan

tidak sadar yang berdampak pada semakin mening-

katnya kepribadian intercultural. Secara signifikan

pada proses ini perkembangan kedewasaan dalam

persepsi dan emosional tergantung dari kondisi

pemahaman manusia itu sendiri. Pada dasarnya

perubahan identitas / kepribadian dari seseorang

karena adanya pengaruh dari luar tergantung dari

orang tersebut dapat menerima secara terbuka atau

tidak pengaruh/pemahaman dari luar.

2. Teknologi Informasi (Media Sosial) dan Psikologis

Menjamurnya jejaring sosial (medsos) selain mem-

iliki pengaruh terhadap budaya juga berpengaruh

terhadap psikologis penggunanya juga. Tidak dapat

dipungkiri agar terkenal di media social berbagai

upaya dilakukan, terutama oleh para remaja. Baik

menggunakan bakat, style ataupun dengan cara-

cara nyeleneh yang menarik perhatian khalayak

ramai.

Terkadang untuk mendapatkan “like” yang banyak

para remaja ini melakukan selfie ataupun wefie

dengan berbagai gaya, bahkan mereka tidak se-

gan—segan menantang bahaya agar hasil fotonya

dinilai sempurna. Dengan kata lain mereka menjadi

haus akan pujian dan selalu ingin menjadi pusat

perhatian (Spot light) di medsos. Mengunggah foto

yang sesempurna mungkin seolah menjadi tuntutan

bagi para remaja hal ini mendorong para remaja/

mahasiswa memiliki kecenderungan kepribadian

narsis yang tinggi.

Menurut Chaplin (Kristanto, 2012) dalam Ulya Rah-

manita (2014;2), kata Narsistik atau Narsis, sering

disebutkan pada mereka yang seringkali membang-

gakan dirinya sendiri atau mereka yang sering berfo-

to ria untuk dipamerkan kepada orang lain, salah

satunya dengan diunggah ke dalam jejaring sosial

miliknya. Kepribadian narsistik memiliki perasaan

yang kuat bahwa dirinya adalah orang yang sangat

penting serta merupakan individu yang unik. Mereka

sangat sulit sekali menerima kritik dari orang

lain,sering ambisius, dan mencari ketenaran

(Ardani, 2011).

Dari kutipan-kutipan di atas mengindikasikan bahwa

kebiasaan selfie secara berlebihan dan mem-

postingnya kedalam media social dengan harapan

banyak orang yang memuji fotonya melalui

“comment” dan “like” merupakan suatu ciri keprib-

andian narsis.

3. Cross Culture

Kajian mengenai budaya merupakan hal menarik

untuk dibahas. Perbandingan antara budaya yang

satu dengan budaya yang lain memang sangat unik.

cross

Nenden Rikma Dewi, Erna Susilawati