< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 4 of 8
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.16 No. 1

6

H a l a m a n

culture

Nagel, (1961) mengungkapkan bahwa penelitian

mengenai kajian lintas budaya berusaha untuk sam-

pai pada titik andal tentang mengapa keadaan ber-

jalan seperti apa adanya.

Cross-

Culture

dikemukakan oleh Edward B. Tylor yang membuat

gebrakan dengan beralihnya dia pada kajian analisis

lintas budaya modern dengan membuat tulisan

mengenai metodologi statistic dalam Modern Premi-

“On a Method of Investigat-

ing the Development of Institutions, Applied to Laws

of Marriage and Descent” (1889).

Graham Sumner membuat tulisan yang sangat ba-

gus yang berjudul “The Science of Society (1927)

yang terdiri dari empat volume dimana didalamnya

termasuk index tulisan dari George Peter Murdock

yang mengembangkan mengenai Survey Lintas Bu-

daya pada tahun 1930- 40an di Yale.

“cross-cultural adaptation is conceived as a process

of dynamic unfolding of the natural human tendency

to struggle for an internal equilibrium in the face of

often adversarial environmental conditions.”

Dari pernyataan Kim diatas dapat dilihat bahwa

adaptasi lintas budaya dipahami sebagai proses

keterbukaan yang dinamis sedangkan kecender-

ungan manusia yang alami agar dapat memper-

juangkan ekuilibrium internal dalam menghadapi

kondisi lingkungan yang seringkali menyimpang."

Cross-cultural research strives to arrive at reliably

supported explanations of why things are the way

they are (Hempel, 1965; Nagel, 1961).

4.

Cultural Shock

Ketika seseorang bepindah dari satu tempat ke tem-

pat lain, maka orang tersebut akan menghadapi

suasana baru, perbedaan cuaca, budaya baru, cara

berpakaian, bahasa atau dialek yang berbeda di-

mana mau tidak mau kita hahrus mengikuti budaya

kota atau daerah tersebut jika tidak maka kita akan

susah sekali untuk berbaur dengan masyarakat

setempat. Namun disisi lain hampir semua orang

yang bermigrasi ke daerah/kota atau negara lain

cultural shock

mana kita berusaha keras untuk menyesuaikan diri

dengan lingkungan yang baru. Culture shock per-

tama kali dikemukakan oleh seorang antropolog

yaitu Kalevro Oberg dalam artikelnya pada tahun

1960 yang lebih menjabarkan mengeai culture

shock

hadap tempat yang tidal familiar atau tempat baru.

Kalevro Oberg (2006:142) lebih lanjut menjabarkan

culture shock

Culture shock is precipitated by

the anxiety that result from

losing all our familiar sign and

symbols of social intercourse.

These sign or cues include the

thousand and one ways in

which we orient ourselves to

the situations of daily life: …….

Now these cues which may be

words, gestures, facial expres-

sions, customs, or norm are

acquired by all of us in the

course of growing up and are

as much part of our culture as

the language we speak or the

beliefs we accept.

Dari pernyataan Oberg diatas menyatakan bahwa

culture shock

seseorang kehilangan symbol hubungan sosial yang

sudah menjadi kebiasaannya dimana symbol terse-

but merupakan kunci penting. Dimana kunci pent-

ing tersebut yang sudah menjadi kebiasaan dan

sering telibat dalam kejadian dikehidupan mereka

sehari-hari diantaranya cara mereka berkata atau

berucap, gerak tubuh, ekspresi muka, adat atau

norma yang harus selalu dipatuhi.

Sedangkan

culture

shock

perubahan saat berada di lingkungan yang tidak

affective,

behaviorcognitive

vidu tersebut merasa, berperilaku, dan berpikir keti-

ka menghadapi pengaruh budaya kedua.

METODE PENELITIAN

1. Lokasi Penelitian

Adapun penelitian ini dilakukan pada mahasiswa

angkatan 2016/2017 Program Studi Sastra Inggris,

Fakultas Sastra Universitas Komputer Indonesia

Bandung.

2.

Pendekatan dan Pengembangan Penelitian

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan

metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif

menurut Kirk dan Miller dalam Lexy J. Moleong

(2002) adalah tradisi tertentu dalam ilmu penge-

tahuan sosial yang secara fundamental bergantung

pada pengamatan pada manusia dalam kawasann-

ya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang

tersebut dalam bahasanya dan dalam peri-

stilahannya.

Nenden Rikma Dewi, Erna Susilawati