< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10

Page 2 of 10
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.16 No. 1

12

H a l a m a n

Larasita dilengkapi dengan sebuah kendaraan roda

klien node)mobile

front office

tanah dan kendaraan roda dua sebagai sarana

transportasi pelayanan.

Dalam kenyataannya di lapangan, Larasita ini tam-

pak masih sulit diimplementasikan. Temuan di la-

pangan yang terkait dengan kebijakan Larasita ini

ternyata masih sangat bermasalah. Kebijakan Lara-

sita, sebetulnya sangat baik dalam konsep yang

hendak dicapai dan sangat tepat untuk mendukung

usaha menyejahterakan rakyat saat ini. Apalagi,

saat ini masih banyak tanah rakyat yang belum di-

sertipikasi dan rakyat masih menghadapi kesulitan

untuk mendapatkan sertipikat tanah miliknya den-

gan cara yang mudah dan murah.

Lemahnya implementasi kebijakan di lapangan ini

sesungguhnya bisa diartikan ada kesenjangan yang

tajam antara visi pimpinan dan pelaksana di la-

pangan. Adanya pemborosan anggaran negara ter-

kait tidak berjalan dengan baiknya kebijakan Larasi-

ta. Misalnya, banyak mobil Larasita di daerah-

daerah yang sudah dibeli dengan anggaran negara,

ternyata tidak beroperasi atau tidak bisa difungsikan

seperti yang diharapkan. Klaim Badan Pertanahan

Nasional yang mengungkapkan sudah ribuan sertipi-

kat tanah yang diselesaikan melalui kebijakan Lara-

sita ini amat diragukan keabsahannya. Itu sebabnya

BPN harus melihat betul realitas kinerjanya pada

masa mendatang.

DESAIN PENELITIAN

Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kuali-

tatif dengan metode analisis deskriptif sebagaimana

dijelaskan Locke, Spriduso dan Silferman dalam

: “ Qualitative research

is interpretative research. As such the biases, values

and judgment of the researches become stated ex-

plicity in the research report. Such openness is con-

sidered to be useful and positive.

penelitian dicirikan oleh kegiatan mengumpulkan,

menggambarkan dan menanfsirkan data tentang

situasi yang dialami, hubungan tertentu, kegiatan,

pandangan, sikap yang ditunjukkan atau tentang

kecenderungan yang tampak dalam proses yang

sedang berlangsung, pertentangan yang meruncing,

serta kerjasama yang dijalankan.

Digunakannya metode kualitatif dimaksudkan untuk

menemukan dan memahami apa yang ada di balik

fenomena yang akan diteliti. Metode kualitatif dapat

the detail of phe-

nomenon

kuantitatif. Dengan demikian, diperlukan terobosan

metodologis yang mampu melahirkan alternatif kon-

sep baru dari kombinasi antara perspektif yang

diteliti dan perspektif dari peneliti sendiri,

Pendekatan

kualitatif

diyakini

mampu

mengarahkan pencarian-pencarian konsep baru

dari kombinasi antara perspektif yang diteliti dan

pespektif peneliti sendiri, melalui pendekatan yang

empiric sensualem-

piric logic

modern sehingga akan lahir proposisi hipotetik baru

melalui interpretasi proses dan makna dari suatu

fenomena yang selanjutnya digunakan untuk mem-

bangun prediksi dan memberikan eksplanasi ter-

hadap fenomena yang diteliti.

PEMBAHASAN

Kabupaten Pangandaran adalah sebuah kabupaten

di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya ada-

lah Parigi. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabu-

paten Ciamis dan Kota Banjar di utara, Kabupaten

Cilacap di timur, Samudera Hindia di selatan, serta

Kabupaten Tasikmalaya di barat. Kabupaten Pan-

gandaran secara geografis berada pada koordinat

108º 41 - 109⁰ Bujur Timur dan 07⁰ 41- 07⁰ 50 Lin-

tang Selatan memiliki luas wilayah mencapai 61

km² dengan luas laut dan pantai dengan batas-

batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar-

sari

Sebelah Barat : Kecamatan Parigi

Sebelah Timur : Kabupaten Cilacap

Sebelah Selatan : Samudera Hindia

Kabupaten Pangandaran terdiri atas 10 kecamatan

yang terdiri atas sejumlah desa dan kelurahan.

Pusat pemerintahan di kecamatan Parigi. Kabupat-

en Pangandaran merupakan pemekaran dari Kabu-

paten Ciamis. Kabupaten ini resmi dimekarkan pa-

da 25 Oktober 2012. Kabupaten ini terdiri dari 10

kecamatan, yaitu sebagai berikut :

1. Cigugur

2. Cijulang

3. Cimerak

4. Kalipucang

5. Langkaplancar

6. Mangunjaya

7. Padaherang

8. Pangandaran

9. Parigi

10. Sidamulih

Wilayah Kabupaten Pangandaran yang luas, sering-

kali membuat masyarakat kesulitan mengakses

berbagai pelayanan pemerintah. Hal yang di-

keluhkan oleh masyarakat tersebut disebabkan

karena informasi mengenai kegiatan-kegiatan per-

tanahan baik itu dalam hal kegiatan sertipikasi

maupun program pertanahan tidak tersosialisasi

dengan baik, terutama yang berkaitan dengan

proses permohonan sertipikasi baik itu dalam hal

Darto