< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6

Page 4 of 6
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.16 No. 1

40

H a l a m a n

PERAN PELAJAR /MAHASISWA DALAM MENGHADAPI

MEA

Keberadaan MEA ini tentu saja menjadi peluang dan

tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dimana

Indonesia dengan jumlah penduduk yang banyak

menjadi salah satu potensi pelaksanaan MEA 2015.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang het-

erogen dengan berbagai jenis suku, bahasa dan

adat istiadat yang terhampar dari Sabang sampai

Merauke. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggi

di dunia ketiga (4,5%) setelah Republik Rakyat

Tiongkok (RRT) dan India. Ini akan menjadi modal

yang penting untuk mempersiapkan masyarakat

Indonesia menuju MEA tahun 2015. Namun pertum-

buhan penduduk yang pesat ini akan menjadi tan-

tangan tersendiri jika Indonesia tidak dapat mencip-

takan SDM yang bermutu dan memiliki daya saing

tinggi dalam menghadapi era globalisasi khususnya

dalam menghadapi tantangan pasar bebas ini. Jika

SDM Indonesia tidak memiliki kualitas yang baik dan

daya saing yang tinggi dalam menghadapi MEA akan

mengakibatkan negara hanya akan menjadi pasar

bagi produk – produk luar dan negara kita hanya

akan menjadi konsumen dan penonton negara lain

yang lebih maju dan unggul dalam hal SDM dan

produk.

Pertambahan penduduk tersebut selain merupakan

peluang juga dapat menjadi resiko dalam implemen-

tasi MEA, selain hal tersebut terdapat pula resiko-

resiko lain yang akan dihadapi nantinya,seperti

bagaimana kesiapan sumber daya manusia, hasil

produk, kesedianya infrastruktur yang baik, ke-

bijakan pemerintah yang diambil dan lainnya. Untuk

mengatasi resiko-resiko tersebut diperlukan adanya

kerjasama antara otoritas negara dan para pelaku

usaha, infrastrukur baik secara fisik dan sosial

(hukum dan kebijakan) perlu dibenahi, serta perlu

adanya peningkatan kemampuan serta daya saing

tenaga kerja dan perusahaan di Indonesia.

Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas SDM

tentu saja tidak dapat dilepaskan dari yang naman-

ya pendidikan. pendidikan merupakan unsur penting

yang harus mendapat prioritas utama. Sebagaimana

dinyatakan Ki Hadjar Dewantara dalam Setuju

(2015:2) bahwa “Pendidikan merupakan daya

upaya memajukan pertumbuhan budi pekerti

(kekuatan batin, karakter), pikiran (intelect) dan

tubuh anak, dimana bagian-bagian tersebut tidak

boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kes-

empurnaan hidup anak-anak kita”. Senada dengan

hal tersebut, pendidikan diharapkan dapat memberi

sumbangan bagi perkembangan seutuhnya setiap

orang, baik jiwa, raga, intelijensi, kepekaan, esteti-

ka, tangung jawab, dan nilai-nilai spiritual. Melalui

pendidikan, setiap orang hendaknya dapat

diberdayakan untuk berpikir mandiri dan kritis. Da-

lam dunia yang terus berubah dan diwarnai oleh

inovasi sosial dan ekonomi, pendidikan tampak

sebagai salah satu kekuatan pendorong untuk

meningkatkan kualitas imajinasi dan kreativitas

sebagai ungkapan dari kebebasan manusia dan

standarisasi tingkah laku perorangan. Kesempatan

atau peluang perlu diberikan kepada generasi mu-

da untu melakukan percobaan dan menemukan

sesuatu yang baru (UNESCO, 1996: 94).

Pendidikan diharapkan mempunyai outcome beru-

pa life skill, yang menjadi bagian konsep dasar pen-

didikan nasional. Life skill merupakan kemampuan,

kesanggupan dan keterampilan yang harus dimiliki

dalam menjalani proses kehidupan. Sehingga

sanggup bersaing dan terampil dalam menjaga ke-

langsungan hidup dan tantangan pada masa depan

(M takdir ilahi, 2012). Hal yang perlu disiapkan da-

lam menghadapi MEA adalah Sumber Daya Manu-

sia (SDM) yang handal mampu bersaingdengan

sumber daya manusia dari anggota MEA itu sendiri.

Penyiapan sumber daya manusia yang dilakukan

salah satunya melalui jalur pendidikan tinggi yaitu

pada mahasiswa-mahasiswa yang ada di kampus.

Mahasiswa yang rata-rata berusia 20 tahun, meru-

pakan aset bangsa yang sangat berharga karena

mahasiswa masih berada pada masa-masa keema-

san dalam mencari jati diri. Sehingga mahasiswa

lulus dengan harapan sudah mempunyai beberapa

kompetensi atau memiliki kemampuan (skill) pada

dirinya.

Kebijakan Daya Saing Tenaga Kerja dari Sisi Pen-

didikan Peningkatan daya saing tenaga kerja Indo-

nesia dari sisi pendidikan dalam rangka menghada-

pi Masyarakat Ekonomi ASEAN telah dilakukan me-

lalui kebijakan dari kementerian terkait. Ke-

menterian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indo-

nesia dan Kamar Dagang Industri Nasional

(KADIN) telah menandatangani

Memorandum of

Understanding (MoU) telah menetapkan beberapa

kebijakan dalam rangka peningkatan daya saing

tersebut. Hal ini dituangkan di antaranya ialah:

1. Peningkatan kualitas tenaga kerja melalui

pengembangan system pendidikan dan

pelatihan berbasis kompetensi. Contohnya

ialah telah diimplementasikan dengan mem-

bentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di

bawah naungan dari Asosiasi-asosiasi profesi

bidang.

2. Dalam sistem berbasis kompetensi ini ter-

dapat tiga komponen yang saling berhub-

ungan yaitu standar kompetensi, pelatihan

berbasis kompetensi, dan sertifikasi kompeten-

si. Contoh yang diimplementasikan dengan

menghubungkan kebijakan kurikulum pen-

didikan vokasional perawat (SMK, Diploma),

Savitri Aditiany