< prev

Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6

Page 5 of 6
next >

Majalah Ilmiah UNIKOM

Vol.16 No. 1

41

H a l a m a n

lembaga sertifikasi profesi (Kementerian

Kesehatan), dan penyelenggaran sertifikasi di

Indonesia.

Berdasarkan data BPS sebelumnya, sumber daya

manusia Indonesia belum mampu menghadapi era

MEA karena hampir 50 persen angkatan kerja lokal

hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Lulusan perguru-

an tinggi juga hanya berkisar 10 persenan. Hal ter-

sebut tentu saja sangat miris sekali dimana angka

penduduk yang pendidikannya masih rendah masih

banyak dan dikhawatirkan tidak dapat bersaing

dengan tenaga yang berkualitas dan lebih profes-

sional dari negara lain yang pada akibatnya akan

menambah jumlah pengangguran di Indonesia kare-

na kalah bersaing dengan negara ASEAN lainnya.

Maka dari itu diperlukan adanya upaya untuk mem-

bentuk tenga kerja terampil di Indonesia, selain me-

lalui pendidikan formal dapat juga melalui pendidi-

kan informal seperti kursus dan pelatihan-pelatihan.

Edy Burmansyah dalam bukunya Rezim baru ASEAN:

Memahami Rantai Pasokan dan Masyarakat

Ekonomi ASEAN (2014:133) mengungkapkan bah-

wa walaupun produktifitas tenaga kerja pada sector

jasa mengalami peningkatan, namun secara kese-

luruhan Indonesia mengalami kesulitan untuk berk-

ompetensi dnegann mitra-mitranya di ASEAN. Ber-

dasarkan laporan bank dunia , posisi Indonesia be-

rada sedikitt diatas Kamboja. Rendahnya tingkat

keterampilan/keahlian tenaga kerja yang ditawar-

kan, disebabkan kualitas system pendidikan tidak

mampu menuntut celah keahlian di Indonesia. Hal

ini dapat dilihat dari contoh kasus pelajar usia 15

tahun di Indonesia memiliki tingkat pengetahuan

yang jauh dibawah rekan-rekannya dari Vi-

etnam,walau Indonesia memiliki pendapatan per

kapita yang lebih tinggi.

Rendahnya keahlian tenaga kerja di Indonesia,

membuat perusahaan – perusahaan di Indonesia

cenderung mempergunakan tenaga kerja asing un-

tuk mengisi sejumlah posisi/pekerjaan yang ditawar-

kan.. Bank Indonesia (2009) menyatakan meskipun

pertumbuhan jumlah Tenaga Kerja Asing yang

bekerja di Indonesia agak flukuatif, namun secara

absolut jumlahnya mengalami peningkatan.

Hal tersebut diatas diperkuat oleh pernyataan

Bapak Didik (ujar Ketua LP3E Kadin, Didik J Rach-

bini di kantor Kadin, Jakarta juga menjelaskan, jika

dilihat dari kualitas tenaga kerja Indonesia saat ini,

pemerintah harus berputar otak supaya para tenaga

kerja Indonesia bisa bersaing di MEA. Hal ini dikare-

nakan, hingga kini hampir separuh atau 47,1 persen

dari tenaga kerja Indonesia adalah lulusan Sekolah

Dasar (SD) ke bawah. "Sehingga ini sulit mendapat

tenaga kerja dengan kualifikasi keterampilan dan

keahlian yang cukup," kata dia.

KESIMPULAN

Begitu banyak persoalan yang akan dihadapi saat

kita menghadapi MEA, namun kita juga harus tetap

optimis karena masih banyak sector yang dapat kita

kembangkan dan diperkuat agar mempunyai daya

saing yang kuat dengan negara lain dalam

menghadapi MEA

Seperti disinggung diatas untuk menghadapi MEA

ini diperlukan adanya kerjasama antara masyarakat

dan pemerintah yang tidak kalah pentingnya juga

kita harus mempersiapkan pemuda-pemudi sebagai

ujung tobak kemajuan suatu bangsa agar mempu-

nyai kualitas yang tinggi, professional, memiliki

kreaivitas tinggi, ulet dan mmeiliki daya juang setra

tidak mudah menyerah.Program wajib belaar 9 ta-

hun, adanya dana bantuan untuk anak kurag mam-

pu (BOS), Program Indonesia mengajar merupakan

salah satu upaya pemerintah dan bantuan masyara-

kat agar semua warga negara indonesia tidak ada

lagi yang buta huruf serta untuk meningkatkan

kualitas pendidikan dan keterampilan masyarakat

agar mampu bersaing dengan negara lain.

Pelajar/ mahasiswa di Indonesia harus di dorong

dan dipacu daya kreatifitasnya untuk menciptakan

suatu lapangan pekerjaan bukannya setelah mere-

ka lulus hanya mengharapkan menjadi pegawai di

suatu instansi pemerintah atau swasta tetapi mere-

ka harus berfikiran untuk menadi pemimpin atau

owner diperusahaan mereka sendiri dengan dipacu

jiwa entrepreneur nya . jumlah entrepreneur di Indo-

nesia masih sangat sedikit jika dibandingkan

dengan negara – negara lain. Speerti yang diutip

dari harian online suara.com pada tanggal 09 Mei

2016 Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Him-

punan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI)

Bahlil Lahadaliamengatakan, saat ini Indonesia baru

memiliki 1,5 persen pengusaha.

Dari kutipan diatas dapat dilihat bahwa jumlah pen-

gusaha atau entrepreneur di Indonesia masih sedi-

kit tertinggal jauh dari negara- negara tetangga se-

dangkan minimal jumlah pengusaha di sebuah

negara adalah 4 persen dari total penduduk negara

tersebut untuk itu Indonesia meningkatkan jumlah

pengusaha yang berkualitas dan terididik salah

satunya yaitu dari kalangan mahasiswa.

Savitri Aditiany